Mari Mengenal Asam Urat

Asam urat –biasanya disebut gout,artritis gout, atau piral– termasuk jenis penyakit rematik. Rematik sendiri memiliki lebih dari 100 jenis. Banyak orang yang salah kaprah. Seseorang yang kadar asam urat darahnya agak tinggi mengeluh nyeri, ngilu dan linu di persendian, dianggap menderita asam urat. Padahal belum tentu.
Asam urat ditandai dengan gejala-gejala yang khas dan kadar asam urat dalam darah meninggi. Hasil pemeriksaan mikroskopis dari cairan di dalam sendi, menunjukkan adanya kristal monosodium urat yang bentuknya mirip seperti ujung-ujung jarum. Kadar asam urat normal pada orang dewasa adalah di bawah 7 mg/dl (pria) dan di bawah 6 mg/dl (wanita). Asam urat sebenarnya adalah hasil akhir metabolisme purin, yaitu protein yang masuk golongannucleoprotein. Bila kadar asam urat berlebihan, darah akan membuangnya ke berbagai organ tubuh seperti persendian dan ginjal. Ketika kristal monosodium urat mengendap di persendian maka terjadilah radang sendi akut.
Sendi yang paling sering diserang adalah ibu jari kaki (90%). Kemudian pergelangan kaki, lutut, siku, dan sendi jari tangan. Pada penerima gout kronik biasanya akan timbul benjolan-benjolan di sekitar sendi yang disebut tofus. Benjolan tofus yang berisi serbuk seperti kapur, tak lain adalah kristalmonosodium urat yang sudah lama mengendap.
Bila kadar asam urat masih di bawah 9 mg/dl, penderita tidak perlu minum obat penurun asam urat. Cukup melakukan diet dan olahraga rutin serta banyak minum air putih. Akan tetapi apabila kadar asam uratnya sudah di atas 9 mg/dl, selain harus dicari tahu penyebabnya, penderita juga diharuskan minum obat penurun asam urat. Bila tidak, bisa timbul komplikasi seperti batu ginjal, batu saluran kemih atau penyumbatansaringan ginjal yang disebut nefropati gout.
Komplikasi lain yang bisa menyertai gout adalah tenggorokan, gangguan penglihatan, gangguan jantung, hipertensistroke, kencing manis (diabetes), kolesterol tinggi dan pengeroposan tulang (osteoporosis).
[dikutip dari berbagai sumber]
Read More...

Guru Harus Merevolusi Diri

Penghasilan guru memang masih minim. Apalagi guru honorer, nasibnya kian tak menentu. Minimnya kesejahteraan itu, dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas pendidikan. Oleh karena itu, nasib guru harus direvolusi. Salah satu cara tentunya dengan merubah pola pikir guru itu sendiri. Perubahan pola pikir dimaksud adalah dengan tidak menggantungkan penghasilan kepada pihak lain, terlebih pemerintah.
Guru saat ini masih terlalu mengharapkan bantuan dari pemerintah. Ketika tunjangan belum dicairkan, maka guru akan merasa seperti kebakaran jenggot. Guru bisa saja meningkatkan pendapatannya melebihi gaji rata-rata yang selama ini didapatkan, tanpa harus berdemo dan melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menjatuhkan harkat dan martabatnya sebagai guru.
Untuk itu, revolusi nasib guru bisa dimulai dari perubahan pola pikir. Sejujurnya, guru punya banyak waktu luang. Usai mengajar, waktu luang itu bias dimanfaatkan untuk berbisnis, menjadi trainer, menjadi guru privat atau kesibukan positif lainnya yang menghasilkan uang. Nah, siapkah kita merevolusi diri…
Read More...

Stop Kekerasan di Sekolah

detikcom – Jakarta. Maraknya kekerasan yang dilakukan pelajar dinilai sebagai kegagalan negara untuk menjaga hak-hak anak dari kekerasan. Oleh karena itu Menteri Pendidikan Nasional harus bertanggung jawab agar tidak ada lagi kekerasan di sekolah.
“Kalau melihat UU Perlindungan Anak, sudah jelas pemerintah harus bertindak. Karena ada amanat yang memerintahkan lingkungan sekolah harus jauh dari kekerasan. Oleh karena itu Mendiknas harus bertindak tegas,” ujar Sekjen Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait.
Hal ini disampaikan Arist usai pembukaan acara Baku Sapa di Tugu Proklamasi, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat (5/12/2008).
Arist juga menyayangkan pihak sekolah yang membiarkan kekerasan terjadi di sekolah sehingga pelajar menjadi korbannya.
Karena itu Arist meminta pihak sekolah dan pemerintah untuk membubarkan semua bentuk kekerasan. “Membubarkan kekerasan yang sudah menjadi tradisi di sekolah merupakan tindakan preventif,” tandasnya.
Read More...

Krisis Finansial Akibat Hukuman Tuhan


Para pemimpin Iran menyatakan krisis finansial global merupakan pertanda berakhirnya kapitalisme, kegagalan demokrasi liberal dan hukuman Tuhan karena telah melupakan-Nya. Seluruh kejadian ini merupakan tanda keunggulan model politik republik Islam itu, kata mereka, seperti dilaporkan AFP. “Krisis finansial akan menjadi isyarat Tuhan bahwa “kaum penindas dan korup akan digantikan dengan kesalehan dan orang yang beriman,” ujar presiden Iran Ahmadinejad sambil menambahkan bahwa “sistem perbankan syariah akan membantu kita bertahan dari krisis ekonomi saat ini”.

Sementara itu, Ayatullah Khameni menyambut “kemenangan revolusi Islam” dalam menghadapi ideologi Marxis dan liberal. “Kini tak ada jejak Marxisme di dunia dan bahkan liberalisme kini menyurut,” kata pemimpin sangat berpengaruh itu. “Ajaran Marxisme telah ambruk dan suara meletusnya demokrasi liberal Barat kini terdengar,” kata pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Senin, menceritakan kembali nasib Uni Sovyet.

Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang berhaluan keras, yang mendapat dukungan Khamenei, menyatakan Selasa bahwa “krisis tersebut merupakan akhir kapitalisme.” Keyakinan semacam ini dapat dirunut kembali ke cita-cita revoilusi Islam pada 1979, yang berusaha dibangkitkan kembali oleh Ahmadinejad sejak ia berkuasa pada 2005. Presiden Iran itu, yang tak pernah sedikit pun melewatkan kesempatan untuk mengecam “kemunduran” Barat sejak terpilih sebagai presiden Iran, telah memanfaatkan parahnya krisis global untuk menyampaikan berbagai pendapatnya.

Pemerintah Iran juga memandang konsep demokrasi dan hak azasi manusia sebagai “alat imperialis” untuk menguasai negara lain. Iran beruntung pasar sahamnya tak terpengaruh dengan jatuhnya bursa di negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. Stabilitas itu dikaitkan dengan absennya para investor asing dan cekaman kuat pemerintah atas kegiatan ekonomi. (sumber: NU Online)
Read More...

Pendidikan Itu...

Pendidikan itu bukan sekedar mengajarkan huruf dan angka. Pendidikan adalah arah bagi peta buta, cahaya di balik kegelapan dan jalan menuju masa depan. Menuntut ilmu setinggi-tingginya dan memiliki masa depan cemerlang adalah impian semua orang. Tak peduli kaya atau miskin, orang kota ataupun wong ndeso, semua butuh pendidikan.

Permasalahannya adalah belakangan ini biaya pendidikan terus membumbung. Banyak orangtua tidak mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang diberikan pemerintah ternyata tidak cukup mampu untuk menekan sekolah agar tidak melakukan pungutan (SPP) kepada siswa-siswinya, terutama untuk jenjang pendidikan SMP/MTs.


Bagaimana mungkin mutu sumber daya manusia Indonesia masa depan akan unggul, jika sekarang mereka tidak mendapatkan pendidikan yang baik….[]
Read More...
 
Copyright (c) 2010 Blogger templates by VLC Player