Serial Buku SBY Bentuk Kampanye Terselubung




Temuan 10 buku bertema SBY di sekolah-sekolah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah dinilai sebagai titik mula glorifikasi Presiden RI ke empat tersebut.  Glorifikasi selalu akan berujung pada empati dan perluasan dukungan politik bagi sang tokoh. Demikian dikatakan Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi menanggapi beredarnya buku buku SBY yang menjadi polemik.

"Meski penyebaran gagasan dan pikiran tentang SBY merupakan hak berekspresi, tetapi penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pencetakan buku itu patut diduga sebagai bentuk kampanye terselubung dengan biaya negara,” kata Hendardi, Jumat (28/1). Sebab itu, ia mengingatkan pentingnya untuk menelusuri jangan sampai alokasi dana pendidikan 20% dari APBN, justru digunakan bukan untuk tujuan mencerdaskan bangsa.

Menanggapi Wamendiknas Fasli Jalal yang akan menyerahkan evaluasi buku SBY pada tim penilai, Koordinator Monitoring Kebijakan Publik ICW, Ade Irawan menyatakan tim penilai harus menjelaskan pada publik mengapa buku itu bisa lolos. Tim penilai harus mempertanggungjawabkan serial buku SBY bisa lolos ke sekolah-sekolah. “Apakah ada muatan politik atau tidak. Walau saya kira muatan politiknya tinggi. Harus ada pertanggungjawaban secara akademis,” tegasnya.

Pengamat pendidikan Romo Baskoro menyatakan boleh saja tim penilai mengevaluasi buku SBY. Namun,  ia meminta jajaran Kemendiknas harus mempunyai kordinasi yang baik dan bertanggung  jawab.  "Jangan saling melempar tanggung jawab, mesti ada pihak di Kemendiknas yang paling berwenang membuat keputusan ini," kata Pembina Kolese Kanisius ini. Romo Baskoro berharap pihak Kemendiknas mesti mempertimbangkan secara masak dalam penggunaan DAK, dalam mekanisme penggunaan dan kontrolnya.

Read More...

Seekor Sapi Untuk Delapan Orang

Selamat Idul Adha
More Graphics

Meski sama-sama pemegang fiqih yang ketat, Kiai Wahid dan Kiai Rais berbeda dalam strategi penerapannya. Kiai Wahid cenderung bergaris lunak, sementara Kiai Rais bergaris keras. Suatu hari menjelang Idul Adha seseorang datang menghadap Kiai Rais. Dia bermaksud melaksanakan kurban dengan menyembelih seekor sapi. Namun sebelumnya dia berkonsultasi terlebih dulu dengan Kiai Rais. Apakah boleh berkurban seekor sapi untuk delapan orang? Dalam ketentuan fiqih, satu ekor sapi untuk tujuh orang. Padahal jumlah anggota keluarganya ada delapan. Dia ingin di akhirat nanti satu keluarga itu bisa satu kendaraan agar tidak berpencar.

Mendengar pertanyaan tersebut Kiai Rais menjawab, “Tidak bisa”. Kurban sapi, kerbau atau unta hanya berlaku untuk tujuh orang. Kemudian orang itu menawar kepada Kiai Rais, “Pak Kiai, apakah tidak ada keringanan? Anak saya yang bungsu baru berumur tiga bulan”. Dengan menjelaskan dasar hukumnya, Kiai Rais tetap menjawab tidak bisa.

Merasa tidak puas, orang itu mengadukan persoalannya kepada Kiai Wahid. Mendengar persoalan yang diadukan oleh orang itu Kiai Wahid dengan enteng menjawab, “Bisa... Sapi itu bisa digunakan untuk delapan orang. Cuma karena anakmu yang terakhir itu masih kecil, maka perlu ada tambahan.”

Mendapat jawaban dari Kiai Wahid orang itu tampak gembira, lalu bertanya, “Tambahannya apa, Pak Kiai?”
“Agar anakmu yang masih kecil itu bisa naik ke punggung sapi, maka harus pakai tangga. Sampeyan sediakan saja seekor kambing supaya anak sampeyan bisa naik ke punggung sapi”, jawab Kiai Wahid.
“Ah,,, kalau Cuma seekor kambing sih  saya sanggup menambah. Dua ekor pun sanggup asalkan kami bisa bersama-sama di surga nanti, Pak Kiai”. Akhirnya pada hari pelaksanaan kurban, orang tersebut menyerahkan seekor sapi dan seekor kambing kepada Kiai Wahid sebagai kurban untuk keluarganya yang berjumlah delapan orang.[]
 
Read More...

Tips Mengatasi Anak Bicara Jorok dan Kasar

Pernah dikagetkan dengan kata-kata kasar dan jorok yang meluncur begitu saja dari mulut si kecil? Padahal kita merasa di rumah tidak pernah mencontohkannya. Apa yang mesti dilakukan oleh kita selaku orang tua untuk menghadapi hal semacam ini? Ada banyak alasan mengapa anak kita berkata kasar. Faktor yang mempengaruhi anak berbicara kasar, yang paling umum adalah untuk menarik perhatian orang lain. Selain itu ada juga faktor lainnya, yaitu adanya perasaan anak yang ingin menjadi superior. Pendapat lain menyatakan bahwa beberapa anak berkata kasar ternyata untuk meredakan ketegangannya sendiri serta dilandasi rasa ingin tahu dari lingkungannya.
Anak kita merupakan peniru ulung. Oleh karenanya hindari penggunaan kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak kita menirunya. Bisa jadi anak-anak kita berkata kasar karena meniru temannya di sekolah atau teman main di sekitar lingkungan rumah. Mereka dapat juga melakukan itu karena hanya sekedar iseng atau sedang mempelajari kata-kata yang baru dan senang dengan bunyi kata itu tanpa mengetahui artinya sama sekali.
Orang tua yang mendapati anaknya berbicara kasar dan kotor harus segera bertindak. Perilaku negatif ini jangan sampai dibiarkan berlarut-larut karena lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Langkah pertama yang orang tua harus lakukan dalam mengatasi masalah ini adalah mencari tahu penyebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi  si anak bicara kasar. Penanganannya nanti akan didasarkan pada faktor-faktor penyebab yang ada pada anak. Apakah untuk menarik perhatian, sekedar meniru atau untuk melampiaskan kemarahan dan lain-lain.
Berikut ini adalah tips mengatasi anak berkata jorok dan kasar:

  1. Berikan contoh kata-kata yang baik, karena anak-anak itu gampang meniru apa yang diucapkan oleh orang terdekatnya. Anak usia balita umumnya senang mempelajari kata-kata yang baru. Apalagi  pada usia ini kemampuan bahasa dan menyerap informasinya sedang berkembang pesat. Mencegah si kecil agar tak bertutur kata kasar/kotor adalah dengan memberikan contoh yang baik, entah itu dari lingkungannya, orang tuanya, kerabatnya agar tidak sampai keceplosan dalam berbicara.
  2. Berikan penjelasan atau pengertian akan arti dan maksud dari kata-kata yang diucapkannya berikut dampaknya. Kebanyakan anak mengucapkan kata-kata kasar/jorok tanpa mengetahui artinya. Dengan demikian kita sebaiknya memberitahu artinya secara singkat dan jelas serta mengenalkan akibatnya jika kita mengucapkan kata-kata itu kepada orang lain.
  3. Berikan hukuman sewajarnya bila ia mengulangi kebiasaan buruk tersebut.
Read More...

Miskin Dilarang Sakit

Orang miskin dilarang sakit. Itu adalah tema Kick Andy minggu lalu, meski kasus yang diajukan tak sepenuhnya menggambarkan bahwa kematian atau kegagalan pengobatan yang dialami akibat ketidakadaan biaya. Sebagian besar lebih karena ketidaktahuan (ignorance) dari orang tua pasien mengenai keadaan yang dialami anak mereka. Contoh kasus yang diangkat sekaligus menggambarkan rendahnya mutu layanan kesehatan di negeri ini.
Tapi tema yang dipilih Kick Andy tidak salah. Sudah menjadi rahasia umum: saat ini biaya pelayanan kesehatan di Indonesia memang sangat mahal. Bukan cuma si miskin, mereka yang setengah miskin pun amat merasakannya.
Sekarang ini pemerintah menyatakan telah menyediakan dana jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) untuk yang miskin dan beberapa pemerintah daerah menyediakan jamkesda. Tetapi peristiwa seperti yang ditemukan Andy F. Noya masih banyak terjadi. Bukan satu dua orang dari kelompok miskin tak tahu bahwa ada dana itu. Kepala desa tak memberi tahu warganya mengenai hal itu. Rumah sakit setali tiga uang. Rumah sakit, mungkin, takut kesulitan ketika menagih dana itu ke pemerintah.
Kini pemerintah menjanjikan pada 2011, semua persalinan akan digratiskan. Maksudnya, tentu, supaya semua ibu hamil mau datang ke puskesmas kalau melahirkan. Tidak pergi ke dukun bayi. Tapi ada pertanyaan besar, apakah rakyat di desa-desa yang tinggal jauh dari puskesmas mengetahui hal itu? Seandainya tahu apakah biaya perjalanan menuju ke puskesmas juga ditanggung?
Tidak semua puskesmas mudah terjangkau oleh penduduk dan tidak semua desa tersedia bidan. Kalaupun ada bidan, mereka juga akan menarik bayaran kalau menolong persalinan di luar puskesmas. Apalagi kalau bidan itu adalah bidan swasta yang tidak digaji negara. Jangankan di desa, di banyak kota pun lebih banyak bidan swasta dibanding bidan pemerintah.
Di kabupaten Pontianak, misalnya, dari sekitar 400 bidan, hanya sekitar 100 yang berstatus pegawai negeri. Kalau janji pemerintah itu hanya berlaku untuk mereka yang melahirkan pada bidan pemerintah atau melahirkan di sarana pelayanan kesehatan pemerintah, maka kembali lagi yang miskin dan tinggal jauh dari tempat layanan akan tidak dapat menikmatinya.
Kalau niat pemerintah itu ditujukan agar angka kematian ibu melahirkan dapat diturunkan, yang seharusnya dilakukan adalah peningkatan akses terhadap pemeriksaan kehamilan, deteksi dan penanganan dini pada kehamilan yang berisiko, dan penggiatan layanan keluarga berencana sampai ke desa-desa. Termasuk, misalnya, untuk kehamilan yang berisiko, maka biaya transportasi dari desa ke Puskesmas akan ditanggung negara, dan semua puskesmas sudah dilatih dan dielngkapi sarana untuk memberikan pertolongan persalinan yang berisiko.
Sekarang ini dengan adanya batasan kewenangan kepada bidan sebagai konsekwensi UU Praktik Kedokteran, maka sering dana pelatihan lebih banyak digunakan untuik melatih dokter puskesmas. Padahal penempatan dokter puskesmas itu sendiri tidak bersifat tetap, sehingga kalau dokter yang sudah dilatih itu pindah, yang menggantikan memerlukan pelatihan lagi. Sementara bidan yang lebih menetap dan lebih banyak berhubungan langsung dengan perawatan kehamilan di desa-desa, kurang mendapat pembekalan agar siap menangani kehamilan yang berisiko.
Jadi kembali lagi, niat yang baik dari pemerintah tadi akhirnya hanya leboih bernuansa untuk popularitas karena tidak disertai pemikiran tentang bagaimana mendaratkan niat tersebut sampai ke desa-desa yang jauh dari jangkauan puskesmas.

Kartono Mohamad
Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Read More...

Mari Belajar Kepada Rayap

Pasti kita semua kenal dengan binatang yang bernama rayap. Rayap adalah binatang kecil yang biasa memakan kayu dan dikenal sebagai hama yang bisa merusak rumah kita. Ia menjadi musuh nomor wahid bagi bahan rumah atau perabot yang terbuat dari kayu. Kekuatan rayap sungguh luar biasa, sebuah bangunan besar saja bisa hancur oleh binatang kecil ini. Namun bukan hanya itu saja kekuatannya. Rayap ternyata juga memiliki kekuatan untuk membangun. Rayap sanggup membangun sarangnya lengkap dengan sistem Air Conditioning (pendingin ruangan) plus tata ruang yang apik dengan ketinggian bisa mencapai 9 meter. Ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa, sebab tubuh rayap sendiri hanya memiliki tinggi sekitar 3 mm saja. Kalau rayap sanggup membangun sarang dengan ketinggian 9 meter itu artinya rayap mampu membuat sesuatu yang besar sampai 3.000 kali lipat tinggi badannya.

Sementara manusia, dengan berbagai bahan-bahan dan peralatan yang canggih sekalipun, sampai sekarang belum mampu membangun bangunan dengan ketinggian sampai 1.000 kali tinggi badannya. Sampai saat ini bangunan tertinggi yang sudah dibuat manusia baru mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter saja.

Bagaimana rayap bisa membangun tempat tinggalnya begitu tinggi? Setidaknya ada dua hikmah yang bisa kita dapatkan dari kehidupan rayap. Mereka bekerja sama dalam membangun sarangnya. Tubuh kecil dan lemah bisa diatasi dengan cara bekerja sama. Bekerja sama membuat mereka memilki kekuatan yang dahsyat baik dalam menghancurkan maupun dalam membangun.
Mereka bekerja dengan mengikuti insting, yang merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada makhluk ini. Mereka tidak punya ilmu arsitektur,  mereka tidak memiliki ilmu dengan pengkondisian udara dan tata ruang, bahkan mereka tidak pernah kuliah tentang cara mengawetkan makanan. Mereka mampu karena mereka hidup dalam fitrahnya.

Manusia yang seharusnya memiliki kemampuan yang jauh lebih dahsyat bisa kehilangan kemampuan itu karena disebabkan oleh dua hal, yaitu: yang pertama, jika seseorang sudah tidak mau lagi bekerja sama dengan saudaranya. Kesombongan dan keangkuhan mereka menghalangi untuk bekerja sama sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal. "Saya bisa, saya hebat, saya mampu. Buat apa bekerja sama?". Orang-orang yang berkata seperti ini adalah mereka yang kehilangan banyak potensi keberhasilan dalam hidupnya.
Hikmah kedua, banyak manusia yang sudah melenceng jauh dari fitrahnya. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Cara yang diproduksi oleh akalnya sendiri yang sungguh lemah dan banyak kekurangan. Padahal kita sudah punya cara hidup yang sangat sesuai dengan fitrah manusia, karena cara hidup ini dibuat oleh Pencipta kita. Cara hidup itu adalah Al Quran dan Hadits Nabi Saw.

Mudah-mudahan melalui gemblengan selama bulan ramadhan ini, kita semua kembali kepada fitrah kita. Menjadi manusia yang selalu butuh akan sesamanya serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Maka dengan demikian kita bisa mengembalikan potensi kita yang sebenarnya. Potensi untuk meraih sukses dunia maupun akhirat. Amin.

 [Dikutip dari berbagai sumber]
Read More...
 
Copyright (c) 2010 Blogger templates by VLC Player