Mesjid Yess, Gereja No Way

Cerita ini terjadi saat saya masih menjadi dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Suatu hari sebuah perbincangan sambil menyelesaikan suatu urusan dengan staf administrasi di kampus menyerempet ke sebuah isu sensitif.
“Hampir saja kita kecolongan, Bang”, kata staf administrasi yang berjilbab itu mengadu, setelah sekian lama tak bertemu saya karena saya lama meninggalkan tanah air untuk tugas belajar.
“Ada apa?”, tanya saya.
“Iya, beberapa waktu lalu orang-orang Kristen berniat mendirikan gereja di kampus ini. Untung kita cepat tahu, lalu bergerak mencegahnya. Alhamdulillah kita berhasil.”
“Kenapa dicegah? Kenapa dihalangi?”
“Lho, kan…..”
“Mbak, saya ini hampir 8 tahun tinggal di Jepang. Selama itu saya jadi minoritas dalam hal agama. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau niat saya hendak membangun mesjid atau beribadah selama saya berada di Jepang dihalangi orang.”
“Mbak mengkhawatirkan kristenisasi?” tanya saya. Ia mengangguk.
“Apa iya kalau berdiri gereja di kampus ini lantas orang berbondong-bondong masuk Kristen?”.
Ia lalu terdiam, dan percakapan kami berakhir.
+++

Pola fikir staf administrasi tadi sebenarnya pernah saya anut. Waktu itu saya masih kuliah di UGM dan aktif di organisasi dakwah kampus. Saat itu di UGM belum ada mesjid, dan kami sedang bersiap untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan mesjid. Mantan Rektor, alm. Koesnadi Hardjasoemantri menjadi ketua panitia.

Saat itu kami mendengar bahwa orang-orang Kristen akan mendirikan gereka di kampus. Lokasinya tak jauh dari lahan yang hendak digunakan untuk membangun mesjid. Kami langsung bereaksi. Rencana pembangunan gereja ini harus dihentikan!
Kami, beberapa aktivis Islam di kampus melakukan berbagai lobi. Yang terutama tentu kepada Rektor. Pergilah kami menghadap Rektor, menanyakan soal rencana itu, dan tentu saja (niatnya) menekan Rektor agar membatalkan atau mencegah rencana itu kalau benar adanya.
Sambil menunggu di ruang tamu kantor Rektor, kami berbincang dengan sekretaris Rektor. Topiknya tentu soal yang sama dengan yang hendak kami adukan ke Rektor. Lucunya, belakangan baru kami tahu bahwa sekretaris Rektor tadi adalah seorang penganut agama Kristen. Ampun, deh!
+++

Pola fikir saya berubah saat saya merasakan pengalaman menjadi minoritas. Yaitu saat saya kuliah di Jepang. Saya pernah tinggal di kota kecil di bagian selatan Jepang. Jumlah orang Islam di kota itu sangat sedikit. Tak lebih dari 50 orang. Hampir semua adalah mahasiswa asing.
Karena jumlah kami kecil, kami tak mampu untuk sekedar menyewa apartemen untuk digunakan sebagai mesjid, sebagaimana dilakukan oleh muslim di berbagai kota. Kami mengandalkan kebaikan hati satu dua profesor yang mau meminjamkan ruangan di kampus untuk dijadikan mushalla.
Suatu ketika kami tak lagi diperbolehkan memakai ruangan itu. Alasan pihak kampus, ruangan itu akan dipakai untuk keperluan akademik. Lagipula Jepang adalah negara sekuler, urusan peribadatan warga tidak boleh melibatkan fasilitas milik pemerintah. Saat itu kami benar-benar kesulitan. Kami harus salat Jumat berpindah-pindah tempat. Untunglah akhirnya ada profesor yang mau membantu mencarikan ruangan untuk dijadikan mushalla.

Di kota lain di mana saya pernah tinggal juga, kami menyewa dua ruangan apartemen untuk dijadikan mushalla. Di situlah kami melaksanakan shalat Jumat serta pengajian. Bagian lain dari apartemen ini adalah tempat tinggal yang disewa oleh orang lain, orang Jepang. Kami harus berhati-hati agar aktivitas kami tidak mengganggu kenyamanan mereka.
Kami mengumpulkan dana untuk pembangunan mesjid. Belasan tahun diperlukan hingga akhirnya dana itu terkumpul. Baru 3 tahun yang lalu kota tempat saya tinggal itu memiliki mesjid. Untungnya pemerintah Jepang yang sekuler itu tidak menghalangi. Selama syarat-syarat mendirikan bangunan dipatuhi tidak ada masalah.
Semua kejadian yang saya alami di Jepang itu mengingatkan saya pada nasib minoritas, khususnya orang Kristen di Indonesia. Mereka sering kesulitan mendirikan gereja. Beribadah di ruko atau di rumah milik sendiri pun sering diganggu. Kami, muslim yang minoritas di Jepang, untungnya tidak mengalami hal itu. Alangkah indahnya kalau minoritas di negeri muslim juga tidak mengalami hal itu.
+++

Kembali ke cerita di kampus tempat saya kerja tadi. Di kampus ini ada mesjid yang cukup besar. Dulu dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Lalu, di setiap fakultas didirikan mushalla yang juga tak kecil. Tapi itu pun ternyata tak cukup. Di banyak bangunan di fakultas masih saja ada ruangan yang difungsikan sebagai mushalla. Bagi mereka yang malas untuk ke mushalla fakultas, bisa shalat di mushalla kecil ini. Yang sedikit rajin berjamaah di mushalla fakultas. Yang lebih rajin, ke mesjid.
Melihat ini semua saya merasa sesak. Keterlaluan benar orang muslim ini.
Jaman Rasulullah masih hidup, di Madinah hanya ada satu mesjid. Apa umat Islam ketika itu tidak mampu membangun lebih dari satu? Rasanya tak mungkin. Orang-orang ketika itu rela menyumbangkan apa saja untuk Islam. Mesjid hanya satu dengan tujuan persatuan. Di situlah semua orang berjamaah, bersilaturrahmi. Di satu tempat.

Kota Madinah ketika itu memang kota kecil. Saya tentu tak berharap kota sebesar Jakarta hanya punya satu mesjid. Itu tak masuk akal. Tapi saya yakin kota Madinah di jaman itu lebih besar dari area kampus saya. Kalau Madinah cukup dengan satu mesjid, kenapa kampus tidak? Kenapa kampus masih perlu ditambah dengan beberapa mushalla, plus puluhan ruangan untuk pengganti mushalla?
Dalam situasi yang sudah berlebih itu, orang Islam masih ribut ketika orang Kristen hendak mendirikan satu gereja. Hanya satu gereja saja.
Adilkah kita ini? Tidakkah kita ini berlebihan? Seingat saya tidak adil dan berlebihan adalah dua sifat yang dibenci Allah.

sumber: http://berbual.com
Read More...

Marhaban Yaa Ramadhan

Syukur alhamdulillah kepada Allah marilah kita panjatkan, atas segala nikmat dan karunia-Nya yang berlimpah ruah dan dari pada itu kita masih dipertemukan oleh-Nya  dengan bulan yang agung, yakni bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik (nilainya) dari seribu bulan.
Bulan yang dimana apabila seseorang melakukan amalan sunnah maka Allah akan membalasnya dengan pahala fardhu. Begitu juga bagi yang melakukan amalan fardhu pada bulan ini, maka dia akan dibalas dengan pahala tujuh kali lipat amalan fardhu pada bulan yang lain.
Inilah bulan yang pada sepuluh hari pertamanya Allah akan menurunkan rahmat, pada sepuluh hari pertengahannya Allah akan memberikan pengampunan dan sepuluh hari terakhirnya Allah membebaskan hamba-Nya dari siksaan api neraka. Masih banyak lagi fadhilah dan keutamaan-keutamaan, yang kalau seorang hamba tahu akan itu semua, niscaya dia akan mengharapkan seluruh bulan yang ada menjadi seperti bulan Ramadhan.
Ramadhan ialah bulan simpati atau kasih sayang karena dengan kita berpuasa kita akan merasakan suatu perasaan yang selalu dirasakan oleh sebagian saudara-saudara yang berada dalam kesusahan. Dengan puasa kita akan sadar serta akan tumbuh dari diri kita rasa kasih sayang kepada sesama serta perasaan saling tolong-menolong dan bantu membantu.
Pada buian ini kita isi hari-hari de-ngan beribadah kepada Allah, mulai dari bangun sahur dan dilanjutkan  dengan shalat subuh. Pada sore harinya ketika datang maghrib kita berbuka, saat itulah kita akan merasakan ketenangan dan kenikmatan yang Allah berikan. Di malam harinya kita melaksanakan shalat tarawih, lalu dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an dan
amalan-amalan lainnya. Sungguh indah kesejukan dan kedamaian yang selalu menyelimuti kita.
Fenomena yang terjadi pada kebanyakan orang saat ini adalah banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mengerti makna dan hakekat dari puasa itu sendiri. Dia berpuasa, tetapi masih mengerjakan perbuatan yang tidak terpuji seperti berbohong, ghibah, menyakiti orang lain dan sebagainya. Padahal semua itu dapat mengurangi pahala bahkan membatalkan puasa.
Di lain pihak, banyak juga orang-orang yang masih berlebih-lebihan, khususnya pada saat sahur dan berbuka. Di waktu sahur dia makan seba-nyak-banyaknya dengan harapan agar tidak merasa lapar pada siang harinya. Begitu juga ketika berbuka, dia melahap semua jenis makanan yang ada. Fenomena ini disebut fenomena “balas dendam”, yakni hanya memindahkan jam makan dari siang hari ke malam hari. Semoga kita tidak termasuk orang yang berlaku demikian.
Setelah sebulan penuh kita berpuasa, datanglah hari raya. Hari penuh kemenangan, yaitu hari Iedul Fitri. Pada hari ini seluruh umat Islam bergembira, karena mereka telah menghabiskan seluruh waktunya ketika di bulan Ramadhan untuk beribadah kepada Allah. Kegembiraan juga bagi orang-orang yang keimanan dan ketakwaannya semakin bertambah sehingga mendapat gelar “muttaqien”.
Tetapi, telah terjadi distorsi di kalangan sebagian umat. Mereka bergembira di hari lebaran hanya dikarenakan pada hari itu mereka memakai baju yang baru, berlimpahnya makanan dan kue-kue yang dihidangkan, serta masih banyak lagi alasan lain yang membuat mereka bergembira.
Mereka tidak sadar bahwa mereka telah keluar dari makna Idul Fitri itu sendiri. Idul Fitri bukanlah untuk mereka yang punya banyak makanan, bukan juga hanya bagi mereka yang berbaju baru. Tetapi hari raya Idul Fitri ialah untuk orang-orang yang bertambah keimanannya. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang kembali ke kesucian dan mendapatkan kemenangan dari Allah SWT. Amin.
[dikutip dari berbagai sumber]
Read More...

USAID Hibahkan US $ 1,38 Juta untuk RI

United States Agency for International Development (USAID) memberikan hibah kepada pemerintah Indonesia sebesar 1,38 juta USD. Hibah itu bertujuan untuk peningkatan di tingkat sekolah dasar atau Decentralized Basic Education (DBE 2) sampai Pembelajaran Aktif untuk Perguruan Tinggi atau Active Learning for Higher Education (ALFHE).
”DBE 2-USAID dan ALFHE bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Indonesia, melalui pelatihan guru dan peningkatan lingkungan belajar di sekolah,” ujar Chief of Party DBE 2 Michael Calvano usai acara pembukaan Seminar Nasional Pembelajaran Aktif untuk Perguruan Tinggi atau Active Learning for Higher Education, di kantor Kementerian Pendidikan Nasional, Senin (5/7).
Melalui program pelatihan untuk dosen dan guru itu, USAID telah mengembangkan sistem pemantauan dan evaluasi untuk mengumpulkan dan melaporkan data dengan berbagai indikator untuk menelusuri masukan, kegiatan, produk, dan pencapaian proyek. Pada tahun 2009, dari 7 provinsi dan dari dua peserta proyek, sekolah yang mengikuti pelatihan ada 1.075 sekolah dan kepala sekolah, 14.484 guru, dan 231.123 siswa.
Evaluasi USAID itu meliputi peningkatan belajar siswa atau mahasiswa, kinerja guru, kinerja kepala sekolah, lingkungan belajar, dan persepsi atau kepuasan pemangku kepentingan. “Dari waktu ke waktu evaluasi ini tidak hanya menggambarkan kemajuan sekolah binaan, tapi juga memberikan gambaran tentang pendidikan di Indonesia secara keseluruhan,” ucap Calvano.
Dari hasil evaluasi USAID, setelah adanya pelatihan guru di sekolah dasar, persentase semua siswa kelas 3 dan 6 yang mencapai kompetisi bidang studi dinilai mencapai atau melebihi standar minimal bidang studi Bahasa Indonesia dan IPA di akhir tahun ajaran. Peningkatan nilai untuk mata pelajaran IPA baik kelas 3 dan 6 SD mencapai 86 persen. Peningkatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 3 SD mencapai 95 persen, sementara untuk kelas 6 mencapai 79 persen.
“Namun, hasil evaluasi hasil belajar Matematika rendah, siswa yang nilainya melebihi kompetensi jauh sekali persentasenya, di bawah 8 persen,” ucap Calvano.
Untuk hasil kinerja guru, USAID menilai persentase guru di bawah binaan USAID yang memenuhi standar kompetensi dinilai masih tetap tinggi, sebanyak 84 persen guru sudah memenuhi kompetensi.
Pada 2008/2009, sebanyak 67 guru di kelas binaan USAID sudah mulai menunjukkan salinan rencana pembelajaran mereka dibanding guru yang tidak termasuk binaan yang hanya 7 persen. “Karena mereka juga sudah menerapkan metode belajar interaktif,” cetus Calvano.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso mengatakan, pembelajaran aktif atau sering disebut student center learning adalah metode untuk meningkatkan proses pembelajaran. “Bagaimana membuat proses pembelajaran itu lebih berpusat kepada mahasiswa yang aktif,” jelasnya. [source: republika.co.id]
Read More...

Chavez: Israel-AS Musuh Kita Bersama

VIVAnews – Presiden Venezuela, Hugo Chavez mengumumkan Israel sebagai pemerintahan ‘genosida’ Minggu kemarin, saat menjamu Presiden Syiria, Bashar Assad — dalam kunjungan pertamanya di negara Amerika Latin.
Pernyataan Chavez menyusul keputusannya mendekat ke Syiria dan Iran dan memutuskan hubungan dengan Israel tahun lalu, memprotes pendudukan Israel atas Jalur Gaza.
“Kita punya musuh bersama,” kata Chavez, lalu mendeskripsikan ‘musuh bersama’ itu sebagai ‘kekaisaran Yankee [Amerika Serikat]‘, dan negara genosida, Israel.
Selama pertemuannya dengan pimpinan Syiria, Chavez mengutarakan kalimat-kalimat kerasnya pada Israel. Kata dia, dataran tinggi Golan — dulunya wilayah Syiria yang dicaplok Israel pada perang 1967 — suatu hari nanti harus kembali ke Syiria.
“Suatu hari, pemerintahan genosida, Israel akan ditempatkan semestinya, mudah-mudahan sebuah demokratis yang sesungguhnya akan lahir,” kata dia, Sabtu lalu.
“Tapi saat ini, itu [Israel] tengah menjadi tangan algojo bagi kekhaisaran AS, siapa yang bisa menyangkalnya, bahwa itu akan mengancam kita semua.”
Sementara, Bashar Assad sepakat dengan Chavez dan menyebut Israel sebagai negara yang ‘berdiri di atas dasar kriminal, dan kematian manusia’. “Israel adalah negara yang tak punya batas.”
Assad memuji Chaves atas keberaniannya berdiri tegak menentang AS dan mendukung berdirinya negara Palestina.
Setelah Venezuela, Assad berencana mengunjungi sejumlah negara yakni Kuba, Brazil, dan Argentina. []
Read More...

Pangeran Charles: Prinsip Spiritual Islam Selamatkan Dunia

Putera Mahkota Kerajaan Inggris Pangeran Charles mengakui, mengikuti prinsip-prinsip spiritual Islam akan dapat menyelamatkan dunia, demikian dilaporkan harian terkemuka Inggris Daily Mail, Kamis. Pangeran Charles mengemuakakan hal itu dalam pidatonya yang bertema “Islam and the Environment” di gedung Sheldonian Teater, Universitas Oxford, Oxford, Inggris.
Dalam ceramahnya selama satu jam di hadapan para sarjana studi Islam di Oxford, Pangeran Charles berargumen bahwa kehancuran manusia dunia terutama bertentangan dengan Islam. Untuk itu ia mendesak dunia untuk mengikuti prinsip-prinsip spiritual Islam untuk melindungi lingkungan. Menurut ayah Pangeran William dan Harry, arus `pembagian` antara manusia dan alam ini disebabkan bukan hanya oleh industrialisasi tetapi juga oleh sikap kita terhadap lingkungan –yang bertentangan dengan butir-butir “tradisi suci”.
Pangeran yang menganut agama Kristen itu yang akan menjadi kepala Gereja Inggris bila naik tahta menjadi Raja Inggris berbicara secara mendalam mengenai Al Quran yang dipelajarinya sendiri. Charles mengatakan bahwa “tidak ada pemisahan antara manusia dan alam” dan mengatakan “kita harus selalu hidup dalam lingkungan yang terbatas”. Ia berbicara kepada para sarjana di Pusat Studi Islam Oxford dalam rangka dan mencoba untuk mendorong pemahaman yang lebih baik dari budaya dan peradaban agama.
Dalam pidato yang menandai ulang tahun ke-25 Pusat Studi Islam Oxford, tempat ia menjadi pelindungnya, Charles mengajak untuk memahami agama dengan mata pelajaran favorit lain seperti lingkungan. “Islam selalu mengajarkan keseimbangan dan bila kita mengabaikannya sangat bertentangan dengan penciptaan,” demikian Pangeran Charles. (sumber: antaranews.com)
Read More...
 
Copyright (c) 2010 Blogger templates by VLC Player