Pesantren Sistem Pendidikan Asli Indonesia

Sebuah Review atas Buku Pesantren Studies Jilid 2a
Bab 1 – Pesantren, Karakter (Ber)Bangsa:
Refleksi dari Sebuah Perdebatan di Masa Kolonial
Pesantren merupakan institusi yang banyak dipuji orang, khususnya masyarakat muslim, demikian juga dengan keberadaan Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia. Namun di saat yang sama sering pula mendapat kecaman dan dilabelkan sebagai institusi yang banyak “menghambat” kemajuan Islam. Kontroversi mengenai pesantren seperti itu secara tidak langsung telah menempatkan pesantren sebagai  institusi yang cukup penting untuk  selalu diperhatikan. Pandangan positif akan menempatkan kontroversi tersebut sebagai peluang untuk memperkuat peran pesantren itu sendiri.[1]
Pesantren dianggap sebagai sistem pendidikan asli Indonesia, sekalipun demikian informasi-informasi lain membuktikan bahwa sistem pendidikan pesantren, madrasah, merupakan adaptasi dari sistem pendidikan yang telah dikembangkan sebelumnya. Satu informasi mengatakan bahwa, pesantren, madrasah dan sekolah Islam seperti dikemukakan  pendapat pertama yaitu merupakan kelanjutan  dan penyempurnaan dari praktik pendidikan pra-Islam atau masa kekuasaan Hindu-Budha, Nurcholis Madjid setuju  dengan pendapat ini. Sebagaimana disebutkan bahwa pesantren memiliki hubungan historis dengan lembaga pendidikan pra-Islam yang sudah ada sejak masa kekuasaan Hindu-Budha, lalu Islam meneruskan dan meng-Islamkannya.[2]
Berbicara tentang pesantren, khususnya di era penjajahan, bukan sekedar membahas sebuah sistem pendidikan, tentang arah dan tujuan pengajaran, kurikulum, buku teks-teks pelajaran yang digunakan atau tentang guru dan rekrutmen murid. Melainkan lebih dari itu, adalah juga berbicara mengenai arah, tujuan dan desain seperti apakah bangsa ini dibuat untuk masa mendatang – pasca penjajahan. Hal ini tergambar jelas dalam sebuah perdebatan tentang pesantren pada tahun 1930-an yang melibatkan sejumlah pihak. Perdebatan berlangsung di sebuah media berbahasa Indonesia yang kemudian dikenal sebagai “Polemik Kebudayaan”.
Salah seorang cendekiawan yang terlibat dalam polemik tersebut ialah dr. Soetomo. Yang menarik dari pemikiran Soetomo adalah anjurannya agar asas-asas sistem pendidikan pesantren digunakan sebagai dasar pembangunan pendidikan nasional Indonesia. Meskipun pemikiran Soetomo kurang mendapat tanggapan yang berarti, tetapi patut digarisbawahi bahwa paling tidak pesantren telah dilihat sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembentukan identitas budaya bangsa Indonesia. Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan di Indonesia, agaknya tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam local genius.[3]
Bisa disimpulkan dari paparan dr. Soetomo, yang paling ditekankan adalah bahwa persatuan demikian penting di antara berbagai elemen kebangsaan, dengan sistem pendidikan pesantren sebagai elemen pemersatu. Kemudian ketika menekankan pentingnya pesantren dari sudut kesederhanaan dan kedalaman pendidikan keagamaan-kebangsaannya, Soetomo menggarisbawahi pentingnya elemen agama dalam ideologi kebangsaan agar tidak sekuler seratus persen. Perdebatan tentang pesantren di media publik seperti ini juga pernah terjadi sebelumnya di tahun 1876 dalam edisi April hingga Juli Jurnal Jurumartani, sebuah jurnal berbahasa Jawa yang terbit di Surakarta sejak tahun 1855. Perdebatannya seputar soal plus-minus sekolah barat dan pesantren. Tapi cakupan debatnya belum menyentuh isu sensitif tentang desain bangsa kita untuk merdeka pasca penjajahan.
Poin inilah yang kemudian menjadi sasaran dan target orang-orang seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan pengikutnya di Balai Pustaka maupun dalam Poedjangga Baroe. Mereka menafikan segenap klaim-klaim legitimasi keberadaan pesantren untuk kepentingan basis dan pilar-pilar ideologi nasionalis tersebut. Pesantren oleh Soetomo tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang arkaik (kuno), ketika sekolah-sekolah modern bermunculan. Pesantren justru dihadirkan untuk menjawab persoalan dan tantangan kekinian. Ini berarti Soetomo mengakui pesantren bisa menjadi aktor inspirasi bagi roh kebangsaan ini: persatuan, kemandirian, kesejahteraan, kemerdekaan dan kerakyatan. Oleh sebagian kalangan nasionalis, pesantren bukanlah antithesis terhadap ideologi ke-Indonesia-an melainkan bagian integral dari denyut nadi kehidupan bangsa Indonesia itu sendiri.
Senada dengan Soetomo, ada Ki Hadjar Dewantara dan Sutopo Adiseputero yang mengemukakan sikap serupa tentang pesantren. Meski dengan perbedaan tekanan, tapi semangat mereka sama yakni bagaimana menempatkan pesantren sejajar dengan sistem sekolah modern, bahkan sebagai penentu dalam konstruksi kebangsaan. Ki Hadjar Dewantara misalnya menyampaikan sesuatu yang tegas tentang pengintegrasian pesantren ke dalam konstruksi ke-Indonesiaan-an. Hal ini mula-mula dilontarkannya dalam kongres pertama PPPKI di Surabaya pada 30 Agustus – 2 September 1928, yakni ide tentang nationaal onderwijs atau pengajaran kebangsaan.
Dua bulan kemudian Ki Hadjar mempertegas keberpihakannya terhadap sisi baik pesantren dengan menulis dalam media Taman Siswa, Wasita, edisi November 1928 dengan judul “Systeem Pondok dan Asrama itulah Systeem Nasional”. Selang dua tahun kemudian Ki Hadjar Dewantara mengemukakan pula hal serupa dalam kongres pertama Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa Ki Hadjar mengikuti arah yang juga dilalui oleh dr. Soetomo dalam soal peran pesantren dalam konteks kebangsaan. Bahwa pesantren menyumbang banyak hal dalam membentuk sifat dan karakter pengajaran nasional sebagai lawan pendidikan kolonial. Sifat kedekatan pesantren dengan rakyat memperkaya pendidikan kultural dan kerohanian masyarakat, memupuk solidaritas, serta ikut mengukuhkan semangat kebangsaan; persatuan, kemandirian dan kemerdekaan. Sifat dan karakter inilah yang kemudian mengundang perdebatan, bahkan terus berulang hingga kini.
Apa yang ditulis Soetomo dan Ki Hadjar mengusik kepala Sutan Takdir Alisjahbana. Menurut Sutan Takdir, kembali ke pesantren berarti kembali kepada anti-intelektualisme, anti-individualisme, anti-egoisme, anti-materialistik. Dalam polemik sebelumnya dengan Sanusi Pane dan Poerbatjaraka, ia menyebut masa pra-Indonesia sebagai zaman jahiliyah. Sutan Takdir dalam tulisannya Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia – Pra-Indonesia (Poedjangga Baroe, 2 Agustus 1935) membedakan "zaman pra-Indonesia" (yang berlangsung hingga akhir abad ke-19) dan "zaman Indonesia" (yang mulai pada awal abad ke-20). Ia menegaskan tentang lahirnya zaman Indonesia Baru, yang bukan sekali-kali dianggap sambugan dari generasi sambungan Mataram, Minangkabau atau Melayu, Banjarmasin atau Sunda. Karenanya tiba waktunya mengarahkan mata kita ke Barat.[4]
Kemudian ketika pesantren diangkat kembali di era modern –era perdebatan ini– maka itu dilihat mewakili traditie. Dan itu artinya sama dengan masa jahiliyah. “Traditie menjadi undang-undang besi yang tiada dapat dilanggar orang”, tandas Takdir. Ada beberapa hal baik yang diakui oleh Takdir sebagai karakter pesantren: persatuan, biaya terjangkau, pendidikan kemerdekaan, model pendidikan yang mengakar ke masyarakat, dst. Tapi bagi Takdir sebutan pesantren, kiai, santri adalah hal-hal yang tidak masuk dalam lingkup pemikirannya dan tidak ada dalam “database” inteleknya.
Bahkan Sutan Takdir dengan sengaja menyerang eksistensi pesantren dan Soetomo sekaligus dengan bahasa kasar dan destructief: “Apabila Tuan dr. Soetomo mengatakan terpecah-belahnya persatuan yang berpusat kiai itu racun bagi bangsa kita, saya menyebut perpecahan persatuan yang demikian ini ialah obat yang semujarab-mujarabnya, semangat persatuan yang berpusat kiai dan pesantren yang menyebabkan jatuhnya bangsa kita”. Kita dapat pahami dari buah pikiran Sutan Takdir tersebut sedikit membuktikan bahwa dia adalah seorang yang pro imperealisme, setidaknya tulisan-tulisannya mengarah kepada propaganda anti kemerdekaan dan mengangkat sisi baik status quo.
Dokter Soetomo membantah keras pandangan modernis tersebut, bahkan balik menyerang acuan ideologis Sutan Takdir tentang intelektualisme, individualisme, egoisme dan materialistik. Sekolah-sekolah Belanda seperti HIS, kata Soetomo, adalah “racun bagi anak Indonesia” –meski ia sendiri dikader dalam sekolah-sekolah colonial semacam ini. Ini berarti Soetomo bias memilah-milah dengan bijak antara model pesantren dan sekolah modern.
Sementara Adinegoro –Adinegoro merupakan nama samaran dari Djamaludin yang bergelar Datuk Maharadja Sutan– seorang wartawan terkemuka dan novelis yang lahir di Talawi Sumatra Barat,[5] menyebut kampanye Takdir tersebut akan membuat bangsa ini terjerumus dalam lembah kapitalisme dan imperealisme. Menurutnya, kemajuan yang dimaksud Takdir adalah civilisatie bukan kultur, ‘kulitnya’ bukan ‘kayunya’. Ini ibarat perbedaan manusia dengan pakaiannya. Karakter seseorang terletak pada jiwanya. Sementara pakaian hanya tampilan luar yang memperindah tampilan karakter. Jadi dalam pandangan Adinegoro, orang-orang Indonesia tetap harus berkultur timur, artinya berkepribadian ke-Indonesia-an, karena itulah yang membentuk karakter kejiwaan dan kemanusiaannya.
Sampai di sini, Soetomo, Ki Hadjar, Adinegoro dan pendukung pesantren lainnya sudah menemukan satu obat mujarab. Yakni dalam menjawab soal alasan mereka mengangkat pesantren di atas panggung kemodernan-kebangsaan ini. Bagi mereka, kebangsaan yang modern tidak harus menafikan pesantren, tapi bias hadir bersama-sama. Pesantren dan sekolah modern bisa berinteraksi dan saling tukar pengetahuan serta kebudayaan yang terjadi di antara keduanya tanpa saling menjatuhkan. Pesantren tentu ada kekurangannya, demikian pula konstruksi kebangsaan-modern juga ada kelemahannya.
Kemunculan Sutan Takdir Alisjahbana dengan Poejangga Baroe-nya dalam Polemik Kebangsaan tiada lain hanyalah untuk menjustifikasi mimpi-mimpi indah yang ditawarkan oleh pemerintah kolonial dengan sekolah-sekolah Baratnya. Sementara untuk pesantren dan sekolah-sekolah nasionalis lainnya, yang ditampilkan adalah mimpi-mimpi buruk di depan mata anak-anak bangsa ini. Hal ini dilakukannya dalam rangka meng-counter sistem pendidikan para haji dan kiai-kiai di desa-desa yang dianggap merusak hubungan antara pemerintah kolonial dengan rakyat. Impian berbunga-bunga yang kemudian diciptakan: untuk hidup mapan dan tidak terkena dampak Malaise (depresi besar tahun 1930-an), masuklah sekolah Belanda, dan dari sana terbuka masa depan yang lebih baik. Salah satu pesan sponsor yang disampaikan Sutan Takdir adalah “Menjadi buruh berarti mendapat hidup yang senang”. Ini yang kemudian disanggah oleh dr. Soetomo sebagai “proses buruhisasi bangsa Indonesia” atau dalam bahasa kita kini, “proletarisasi orang-orang Indonesia”.
Demikianlah cara Soetomo, Ki Hadjar dan Adinegoro menunjukkan model merawat tradisi dan identitas kebudayaan bangsa ini. Sehingga menjadi relevan mengapa actor-aktor gerakan nasionalis ini mendukung pesantren. Mereka melihat pesantren sebagai sebuah kekuatan investasi kultural. Yakni pesantren sebagai lahan subur dan juga kesempatan emas untuk mengimajinasi hakekat dan karakter “(ber)bangsa”. Dalam sejarahnya pesantren memperkenalkan kepada mereka satu peradaban yang sangat kaya dengan pencapaian-pencapaian kebudayaan dalam bidang agama, sastra, seni dan spiritualitas –sesuatu yang belum dirusak oleh pengaruh kebudayaan Barat.
Pesantren dianggap sebagai aktor pengisi imajinasi kebangsaan maupun sebagai actor dekolonisasi imajinasi dan kebudayaan. Dari konteks pesantren ini, “bangsa” digodok, diracik dan dimapankan. Sehingga apapun yang termasuk dalam wilayah kebudayaan, yang dianggap sebagai unsure-unsur bangsa, dirumuskan sesuai dengan hakikat kepesantrenan itu. Dari sana mereka berbicara tentang “jiwa dan sanubari” bangsa, tentang “kebudayaan” kita yang terjaga dalam pesantren, dan tentang arti kemandirian, kemerdekaan dan persatuan. Demikian pula Soetomo melihat idealisme “persatuan” dalam pesantren yang dianggap paling idealis.
Tema-tema kemerdekaan dan persatuan itulah yang kemudian menjadi pertaruhan kalangan nasionalis, founding fathers bangsa dan negara kita. Ini kemudian menentukan manakah arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Apakah yang bergantung kepada niat baik negara-negara Barat imperialis ataukah mencari kekuatan sendiri yang mandiri dalam bangsa sendiri. Dan pada gilirannya, ini pula sebetulnya yang menentukan soal dekat jauhnya seseorang dengan pesantren dalam meramu hakikat kebangsaan.






[1] Sri Haningsih, Peran Strategis Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia, dalam Jurnal Pendidikan Islam El-Tarbawi No. 1. Vol.I. 2008.
[2] Haedari Amin, dalam Jurnal Pondok Pesantren Mihrab Vol. II. No. 1. Juli 2007.
[3] Prof. Drs. A. Malik Fajar, M.Sc., Sintesa Antara Perguruan Tinggi dan Pesatren, Makalah yang diambil dari Diskusi Panel "Pola Keterkaitan Pesantren, Perguruan Tinggi dan LSM dalam Pendidikan dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat", yang diselenggarakan oleh Lembaga Kemahasiswaan dan Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, (Bandung tanpa tanggal dan tahun).
[4] http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2403/Polemik-Kebudayaan
[5] http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/48/Adinegoro
Read More...

Penelusuran Manuskrip Tentang Pesantren dan Islam Nusantara

Manuskrip adalah naskah kuno tulisan tangan karya orang terdahulu yang menjadi kajian filologi. Pengertian manuskrip saat ini perlahan meluas menjadi segala bentuk naskah tertulis yang biasanya telah berusia ratusan tahun lalu yang dibuat manusia baik terkait ilmu pengetahuan, kesusasteraan, undang-undang, ketatanegaraan dan lain sebagainya.  Berbagai manuskrip ini masih tersimpan rapi di beberapa museum dan perpustakaan, walaupun ada juga beberapa manuskrip ditemukan di beberapa daerah dalam kondisi tidak terawat atau rusak.
Penelusuran manuskrip ini merupakan tugas dari mata kuliah Pesantren Studies dengan dosen pengampu Ahmad Baso. Sebelum mengikuti perkuliahan ini saya belum begitu memahami apa yang dimaksud dengan manuskrip yang sesungguhnya. Namun dengan bekal pengetahuan yang minim saya mencoba untuk melakukan penelusuran manuskrip tentang pesantren dan Islam Nusantara ini ke Perpustakaan Nasional yang beralamat di Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat. Kunjungan ke gedung Perpustakaan Nasional ini merupakan kunjungan pertama bagi saya, sehingga ada hikmah positif yang dapat dipetik dari perjalanan ini, yaitu apabila tidak ada tugas dari Pak Ahmad Baso maka saya mungkin tidak pernah datang ke Perpustakaan Nasional.
Di lobbi perpustakaan tersebut petugas keamanan memberi tahu saya agar mendaftarkan diri terlebih dahulu untuk menjadi anggota, karena jika tidak maka saya tidak mendapatkan izin akses masuk ke dalam walaupun hanya sekedar untuk membaca atau melihat-lihat. Untuk itu pertama-tama saya harus mengantri untuk membuat kartu anggota, sebagai informasi saja bahwa pembuatan kartu anggota perpustakaan nasional tidak dipungut biaya alias gratis.
Sesudah membuat kartu anggota barulah saya diizinkan masuk dan langsung naik ke lantai 2 dimana saya mencari terlebih dulu katalog buku atau koleksi manuskrip yang saya cari. Setelah membuka-buka katalog dan mendapat bantuan informasi dari petugas kemudian saya menuju ke lantai 5, tempat menyimpan koleksi ratusan bahkan mungkin ribuan manuskrip Nusantara. Di sana saya menyerahkan nomor kode atau katalog manuskrip kepada petugas ruangan manuskrip yang kemudian membantu mencarikan naskah yang saya cari.
Ternyata tidak semua naskah manuskrip yang ada dalam katalog dapat dipinjamkan kepada pengunjung dengan alasan kondisi naskah yang sudah rusak parah karena dimakan usia ataupun sedang dalam perbaikan (restorasi). Sehingga saya sarankan kepada sahabat-sahabat yang akan berkunjung ke sana untuk melakukan penelusuran manuskrip agar mempunyai katalog cadangan naskah lainnya selain dari katalog yang kita inginkan. Sebagaimana yang dialami oleh saya, pada mulanya dengan percaya diri saya hanya mengajukan satu katalog naskah yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan tugas mata kuliah Pesantren Studies ini, namun ternyata naskah yang diminta tidak dapat dipenuhi oleh petugas dengan alasan di atas. Kejadian ini terus berulang sampai saya mengajukan katalog naskah ke empat dengan kode bertuliskan BR196 – Do’a Chatam Koer’an yang akhirnya saya dapat.
Dengan kemampuan yang dimiliki ala kadarnya saya pun mencoba untuk melakukan pengkajian terhadap isi naskah tersebut. Dari beberapa lembar halaman naskah yang saya –dibantu beberapa teman– kaji, sebagian besar naskah masih dapat terbaca dan dimengerti dengan baik. Ada sebagian kata-kata yang kami temukan kurang dapat dimengerti karena sebagian tintanya sudah pudar dimakan usia, selain juga ada beberapa kata yang sudah tidak popular lagi digunakan pada masa kini.
Permasalahan ini tentu sering saya temukan mengingat naskah manuskrip yang saya kaji sudah berusia sekitar 243 tahun. Hal ini dapat diketahui dari lembar halaman paling akhir naskah tersebut, dimana penulisnya mencantumkan tanggal bulan dan tahun dibuatnya tulisan itu yakni pada bulan April 1772 M. Dari beberapa teks yang mampu kami baca dapat disimpulkan isi naskah tidak terlalu sesuai dengan judul yang tertulis dalam katalog. Ternyata isinya hampir sama atau lebih mirip dengan apa yang kita sebut sekarang ini sebagai do’a tahlil dalam rangka mendoakan orang yang sudah mati. Sebagaimana dalam halaman pertama naskah disebutkan:
“Bismillahirrohmanirrohim.

Bab bermula, ketahui olehmu hai tholib bahwa inilah do’a hatimil qur’an orang mati, maka membaca inilah. Pertama-pertama membaca bismillahir rohmanirrohim, Qul huwa Allahu ahad sampai kepada akhirnya tiga kali, maka pada akhirnya Laa ilaa ha illa Allah Allahu akbar sekali, maka membaca pula bismillahir rohmanirrohim Qul a’udzu bi robbil falaq sampai kepada akhirnya, Laa ilaa ha illa Allah Allahu akbar. Kemudian membaca Qul a’udzu bi robbinnaas hingga akhirnya…”


Read More...

Peranan Jaringan Ulama di Indonesia

Secara geografis, kawasan muslim Asia Tenggara juga sering disebut Dunia Melayu-Indonesia, terletak di pinggiran (periphery) dunia Islam. Lebih jauh, kawasan ini juga mempresentasikan salah satu bagian dunia Islam yang paling sedikit mengalami Arabisasi. Meskipun demikian, perkembangan Islam di Asia Tenggara tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Islam di Timur Tengah. Dalam konteks ini, jaringan ulama internasional yang berpusat di Haramain memainkan peran krusial dalam transmisi dorongan (impulse) pembaruan pada abad ke-17 dan ke-18 ke kawasan Dunia Melayu-Indonesia.

Hubungan kuat dan intensif antara kaum muslim di Asia Tenggara dan saudara seiman mereka di Timur Tengah telah tersipta sejak waktu yang sangat duni kehadira Islam di Dunia Melayu-Indonesia. Pada mulanya, kontak di kalangan mereka terjalin melalui perdagangan antara Asia Tenggara dan Timur Tengah. Para pedagang dari Timur Tengah banyak dan sering mengunjungi kota-kota di Asia Tenggara; mereka terlibat tidak hanya dalam perdagangan ,tetapi juga, pada batas tertentu, dalam memperkenalkan Islam kepada penduduk pribumi. Banyak penduduk Muslim di kawasan ini pergi ke pusat-pusat Islam di Timur Tengah. Kebanyakan mereka pergi ke Hijaz untuk menunaikan ibadah haji. Namun, ada juga dari mereka yang sengaja tinggal dan belajar di sana tentang berbagai ilmu Islam untuk beberapa waktu. Ini menyebabkan munculnya hal yang disebut orang-orang Makkah dan Madinah sebagai komunitas “Jawi” (ashabu al-Jawiyyin) di Tanah Suci, sekalipun tidak semua dari mereka berasal dari Jawa.

Dengan mempertimbangkan hubungan ekonomi, diplomatik, dan sosial yang luas dan intensif di antara kerajaan-kerajaan Muslim di dunia Melayu-Indonesia dan Timur Tengah memungkinkan bahwa para murid Jawi telah menuntut ilmu Islam sebelum abad ke-17. Sangat disayangkan, kurangnya sumber informasi menjadikan upaya untuk merekonstruksi sejarah awal murid-murid Jawi di Timur Tengah menjadi sangat sulit, namun upaya mesti tetap dilakukan. Catatan-catatan Barat dari abad ke-15 merupakan sumber-sumber yang penting. Namun, sumber-sumber Barat menawarkan hanya sedikit mengenai Islam dengan wajah keagamaan yang mempresentasikan meluasnya suatu komunitas keagamaan dunia. Untuk mengungkapkan dimensi ini, orang harus menemukan garis-garis tradisi intelektual yang terlihat dalam studi pencarian keilmuan Islam. Jika ini tidak dilakukan, akan sulit melacak jaringan yang merangsang dan memelihara urat nadi dinamika Islam dan kehidupan sosial di kawasan ini.

Jaringan Ulama Internasional
Kehidupan keagamaan Islam pada masa-masa akhir abad pertengahan dapat ditandai oleh ketegangan antara Islam Ortodoks dan Sufisme. Meskipun demikian, berbagai upaya telah mulai dilakukan pada abad ke-3 H/9 M di dalam lingkungan sufi untuk menjembatani jurang antara Islam Ortodoks dan Sufisme, serta menjaga agar tetap berada dalam batas-batas yang bisa diteloransi.

Pada perempatan terakhir abad ke-4 H/10 M, gerakan yang berhasil mencapai puncaknya pada karya Al-Ghazali berhasil mencapai suatu sintesis antara sufisme dan kalam yang umumnya dapat diterima oleh ortodoksi dan dikukuhkan oleh ijma'. Adalah jelas bahwa setelah gerakan sufisme menguasai dunia Muslim selama abad ke-6 H/12 M dan ke-7 H/13 M, secara emosional, spiritual dan intelektual di kalangan para ulama terdapat kesadaran yang semakin kuat bahwa hampir tidak mungkin bagi mereka mengabaikan kekuatan sufisme secara keseluruhan. Objek dan isi pemusatan rohani tersebut kini diidentifikasikan dengan doktrin ortodoks, sedangkan tujuan sufisme dirumuskan kembali sebagai upaya penguatan keimanan dalam batas-batas syariat guna mencapai kemurnian batin.

Tampaknya komunitas ulama, terutama yang berpusat di Makkah dan Madinah memainkan peran penting dalam perkembangan tersebut. Karena peran sentral tersebut, tidaklah mengherankan jika kedua kota itu semakin menjadi vocal point yang krusial dan tempat pertemuan para ulama dari seluruh dunia Muslim. Dengan demikian, sebuah jaringan ulama yang bersifat kosmopolit muncul dari Haramain. Meningkatnya kosmopolitanisme dalam jaringan ulama internasional sudah barang tentu membantu para pencari ilmu untuk memperluas horizon intelektual mereka.

Inti jaringan ulama adalah para ulama terkemuka dan berpengaruh di Makkah dan Madinah, baik warga pribumi maupun mereka mereka yang berasal dari wilayah dunia muslim lain yang telah menetap secara permanen di sana. Dengan kata lain, mereka yang terlibat dalam jaringan ini, guru maupun murid, lahir dan pertama kali belajar ilmu-ilmu Islam di wilayah yang terbentang mulai Hijaz, Persia, India dan Indonesia sampai ke Mesir dan Maroko. Kelompok ini secara keseluruhan mengadakan banyak perjalanan dan sedikit dari mereka yang mendapatkan pendidikan dari satu atau dua tempat saja.

Analisis lebih jauh tentang komunitas intelektual menampakkan gambaran yang menarik. Lebih-lebih lagi, komunitas ini mempresentasikan kesinambungan yang kuat terhadap penekanan baru atas berbagai disiplin ilmu, terutama telaah hadits yang tidak hanya berdasarkan Kutub Al-Sittah dan buku-buku pada abad pertengahan yang diterbitkan atas dasar keenam kumpulan hadits tersebut. Dalam telaah hadist, perkembangan semacam ini jelas berkaitan dengan niat yang berkesinambungan di antara ulama untuk memperbarui sufisme. Model yang digunakan untuk masyarakat ideal adalah komunitas yang digambarkan oleh hadits. Jadi, ada suatu perubahan yang bertahap mengenai penekanan pada telaah hadits; sekarang kebanyakan ulama mempelajari hadits untuk tujuan praktis daripada alasan akademis. Telaah hadits kini digunakan lebih banyak untuk memberikan suatu standar penilaian atas praktik-praktik di kalangan kaum muslimin pada masa itu. ***


Sumber: Buku Islam Nusantara karya Prof. Dr. Azzumardi Azra, MA.
Read More...

Hikmah Diturunkannya Al Qur'an Secara Bertahap

Sebagai wahyu, surah-surah dan ayat-ayat Al Qur'an diturunkan oleh Allah Swt secara bertahap selama kurang lebih 22 tahun masa kenabian Muhammad Saw. Hikmah diturunkannya Al Qur'an secara berangsur-angsur adalah:
  1. untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad Saw dengan cara mengingatkannya secara terus menerus.
  2. supaya lebih mudah dimengerti dan diamalkan oleh para pengikutnya.
  3. menjadi jawaban atas penjelasan dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad Saw.
  4. hukum-hukum yang terkandung di dalam Al Qur'an mudah diterapkan secara bertahap.
  5. dapat lebih mudah untuk dihafalkan.
Ayat yang pertama kali turun adalah surah Al Alaq. Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad Saw sedang menyendiri dan berkontemplasi di Gua Hira pada malam 17 bulan Ramadhan atau bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M. Beberapa waktu kemudian turunlah wahyu kedua, yaitu surah Al Mudatsir. Dalam surat tersebut Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk menyerukan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia.
Read More...

Sidang Itsbat: Ternyata Pemerintah Salah

Ketika pertama kali membaca judulnya, saya langsung tertarik untuk membacanya karena penasaran akan isinya. Walaupun sejujurnya setelah membacanya secara utuh, menurut saya antara judul dan isi tulisan agak kurang nyambung :D... Namun demikian tetap saja saya anggap tulisan ini cukup bagus dan mampu membuka cakrawala berpikir kita dan melihat sisi lain dari sebuah perbedaan. Tulisan ini saya kutip dari sumber aslinya tanpa merubah sedikitpun.

Negara kita memang belum bisa disebut dengan Negara Islam. Tapi setidaknya ini jauh lebih baik ketimbang kita tidak punya Negara. Iya kan? Belum lagi ditambah dengan kebijakan pemerintah yang jelas-jelas sudah banyak memberikan manfaatnya buat Islam. Pesantren tumbuh di mana-mana, kebebasan untuk menjalankan ritual ibadah agama Islam juga dilindungi oleh Negara, partai-partai Islam diberi ruang yang besar untuk tumbuh dan berjuang, ormas-ormas Islam juga sangat dihargai, jilbab sudah menjamur di mana-mana, dan sederet kebaikan lainnya yang sudah Negara ini berikan kepada Islam.
Alhamdulillah, semua itu sudah lama hadir bersama kita. Untuk itu adakah yang salah jika muslim di Indonesia ini hormat dan taat kepada pemimpin-pemimpin kita yang ada di Negara ini? Terutama ketika mereka semua sudah berusaha berjalan di atas kebenaran. Lain halnya jika mereka “dengan sengaja” ingin merusak umat ini.

Sidang Itsbat
Hampir setiap tahun kita mendengar kata sidang itsbat, mungkin semua kita sudah paham dengan maksud dari kata itu. Sidang untuk menetapkan. Iya, itu dia maksudnya. Secara umum ia berguna untuk menetapkan kapan kita puasa, dan kapan kita lebaran.
Mereka sidang, rapat, musyawarah. Setelah sebelumnya disebar petugas-petugas yang profesional bekerja untuk melihat hilal (bulan), sebagai standar waktu peribadatan dalam agama Islam.
Dan mereka yang bertugas bukanlah orang yang awam seperti kita ini. Mereka orang-orang pilihan, punya banyak ilmu tentang perbintangan (falaq), ditambah dengan ulama’-ulama’ yang paham ilmu syariah.

Melihat Bulan dan Tidak Melihat Bulan
Jika kita mau jujur, sebenarnya semua ulama sepakat bahwa penentuan Ramadhan dengan melihat bulan, bukan dengan keberadaan bulan. Jika standarnya keberadaan bulan, toh selama ini dan kapan pun bulan sudah pasti ada. Cuma masalahnya terlihat atau tertutup oleh awan.
Jika terlihat bulan baru, maka kita puasa, maka kita juga lebaran. Namun jika bulan tidak terlihat (walaupun keberadaannya ada), maka baru kita berpindah ke metode lain. Menggenapkan hitungan bulan atau dengan menggunakan ilmu hisab.
Inilah pemaknaan hadits nabi berikut:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُم فَاقْدُرُوا لَهُ
“Puasalah dengan melihat bulan dan berfithr (berlebaran) dengan melihat bulan, bila tidak nampak olehmu, maka kadarkanlah”. (HR. Bukhari dan Muslim)
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ حَال بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ سَحَابَةٌ  فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الشَّهْرَ اسْتِقْبَالاً
Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berbukalah kamu dengan melihatnya juga. Tetapi bila ada awan yang menghalangi, maka genapkanlah hitungan dan janganlah menyambut bulan baru. (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)
Dan kesemuanya itu sudah dilakukan secara benar oleh pemerintah kita. Usaha ini dinamakan dengan proses ijtihad. Jika hasil keputusan yang diambil sudah sesuai dengan aturan-aturannya, maka apapun hasilnya, itulah yang terbaik.

Pemegang Keputusan
Tidak diragukan bahwa otoritas keputusan itu dipegang oleh pemimpin yang berkuasa, dulunya saja penetapan awal Ramadhan ini juga dipegang oleh Rasul SAW, tidak ada satu pun sahabat yang berani untuk meneriakkan tentang awal Ramadhan.
Jika di antara sahabat ada yang melihat bulan, maka berita ini mereka sampaikan kepada Rasul SAW, dan biasanya Rasul SAW akan memperjelas kabar ini, jika memang yakin kebenarannya, maka akan keluar surat perintah dari Rasul agar masyarakat diberi tahu bahwa besok sudah mulai puasa.
Keputusan yang kita serahkan kepada “pemegang keputusan” ini dimaksudkan agar masyarakat yang banyak ini tidak disibukkan dan dibingungkan dengan perkara ini.
Untuk itulah Rasul SAW bersabda dalam kaitan ini dengan:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
Hari puasa adalah hari di mana semua kalian berpuasa. Hari berbuka adalah hari di mana semua kalian berbuka (maksudnya berlebaran). Dan hari Adha adalah hari di mana semua kalian beridul-Adha. (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa perilaku melawan arus orang banyak itu bukan sesuatu yang terpuji, terkhusus untuk masalah puasa dan lebaran.  Jadi tidak boleh puasa sendirian di saat masyarakat lainnya belum berpuasa, pun begitu sebaliknya jangan berlebaran sendirian di saat yang lain belum lebaran.
Namun ada hal menarik di negeri kita ini, justru perbedaan itu yang dicari dan dikejar, sehingga ‘mungkin’ ada rasa kebahagiaan dan bangga di dalam hatinya jika berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Ya, walaupun sah-sah saja berbeda, namun dalam beberapa hal ada baiknya kita bersama.

Ternyata Pemerintah Salah
Anggap saja setelah semua keputusan selesai diambil, dan ternyata pemerintah salah, maka pemerintah tetap benar. Karena ijtihad yang dilakukan oleh pemimpin, ketika itu sudah melalui prosesnya yang benar, tidak kata dosa di sana. Justru yang adalah pahala.
“Jika seorang pemimpin itu berijtihad, lalu hasil ijtihadnya benar, maka dia mendapatkan dua kebaikan. Namun jika ternyata hasil ijtihadnya salah, maka dia mendapat satu kebaikan” begitu Rasul SAW pernah memberikan penekanan terhadap hal penerimaan hasil ijtihad pemimpin, jika sudah dilakukan dengan prosesnya yang benar.
Ada ungkapan menarik yang dulu pernah dilontarkan oleh Ulama besar kita, beliau adalah salah satu Imam Mazhab, Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau pernah berpesan untuk kita semua dengan ungkapan: “Seseorang itu hendaknya berpuasa bersama penguasa dan jamaah mayoritas umat Islam, baik ketika cuaca cerah maupun mendung”. Pesan yang sangat bagus sekali, yang bisa menjadi pemersatu umat ini.
Wallahu A’lam Bisshowab.

Oleh: M. Saiyid Mahadhir



Read More...

Wajah Muhammadiyah Ditampar oleh Ustadz Ini

Ini adalah catatan ketika tadi siang mengikuti sebuah sholat Jum’at. Saya biasa melaksanakan sholat jum’at di Masjid Muhammadiyah, meskipun saya bukan orang muhammadiyah dan juga bukan orang NU, saya hanyalah orang islam yang berusaha menjalankan agama dengan baik dan benar, tanpa harus terikat dengan salah satu organisasi keagamaan, atau partai politik manapun.

Takmir Masjid itu, seringkali mengundang para khatib dari luar, yang biasanya sering dari Lembaga Dewan Da’wah Islam Indonesia (DDII), yang notabene beranggotakan dari berbagai kalangan dan mahzab. Nah kebetulan Ustadz yang dipanggil untuk menjadi khatib ini adalah ustadz yang mempunyai mahzab lain, dengan mahzab dan tata cara pandang Muhammadiyah dalam beragama. Ustadz ini bernama Ust. Abu Annas Abdillah, dia sudah terlihat begitu tua, tapi suaranya masih saja lantang dalam memberikan khutbah.

Ustadz ini mengambil tema tentang Menyongsong Bulan Suci Romadhon, isi materinya adalah tentang pelaksanaan puasa, yang juga membahas tentang perbedaan dikalangan ummat islam. Ustadz ini mengatakan dalam khutbahnya, bahwa ummat islam harus patuh dengan ulil amri, penguasa atau pemerintah dalam menentukan 1 romadhon, atau 1 syawwal. Ummat islam tidak boleh terpecah belah, dan membuat ummat islam yang masih awwam menjadi bingung.

Ummat islam harus kelihatan Izzahnya (kemuliaannya), dengan cara bersatu padu dalam satu barisan, dengan tetap berpegang kepada Alqur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus-shalih. Jangan biarkan orang diluar islam menganggap bahwa islam itu lemah, dengan terbukti menjalankan ibadah saja saling terjadi perbedaan di antara kaum muslimin.

Ustadz ini menjelaskan demikian pentingnya tunduk dan patuh terhadap ulil amri, selama ulil amri itu tidak bermaksiat kepada Allah dan RasulNya. Ustadz Abu Annas, yang menurut saya tidak tahu bahwa Masjid yang sedang dia singgahi ini adalah Masjidnya Orang Muhammadiyah, sehingga dengan lantang dia menyuarakan kebenaran, dan memberikan stigma yang “salah” terhadap ormas yang tidak menurut dengan ulil amri.

Isi khutbah itu, seolah menampar wajah orang Muhammadiyah, yang jelas-jelas mereka undang sendiri untuk menjadi khatib di Masjid Mereka. Sekaligus, terbelalaklah pintu kebenaran, bahwa memang seharusnya kita wajib taat dan patuh terhadap pemerintah, selama pemerintah itu tidak bermaksiat kepada Allah.

==================

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa…!!

sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2012/07/20/wajah-muhammadiyah-ditampar-oleh-ustadz-ini/
Read More...

Sembilan Negara Pengguna Facebook Terbesar di Dunia

Facebook adalah fenomena dahsyat di dunia internet dan teknologi. Bahkan, belakangan tersiar kabar bahwa pendiri facebook dan karyawannya telah menjadi orang kaya mendadak gara-gara sahamnya melonjak drastis di atas rata-rata. Salah satu penyumbang terbesar kemajuan facebook adalah penduduk Indonesia. Indonesia menempati urutan kedua negara pengguna situs jejaring sosial facebook. Apakah ini menandakan bahwa mayoritas penduduk Indonesia sudah melek teknologi atau justru menjadi korban dari teknologi tersebut?

CheckFacebook menunjukkan data bahwa pengguna facebook tidak berbanding lurus dengan jumlah populasi penduduk di suatu negara. China, Pakistan, Bangladesh, Rusia dan Nigeria adalah negara-negara yang masuk dalam 10 negara berpenduduk terbesar di dunia, namun angka pengguna facebooknya sangat kecil. Di China misalnya, hanya berkisar 500 ribu dari satu milyar lebih jumlah penduduknya. Bahkan, Jepang yang merupakan negara yang melek teknologi dan internet, hanya sekitar 6 juta warganya yang menggunakan facebook dari 127 juta populasi penduduk.

Berikut adalah daftar urutan sembilan negara pengguna facebook terbesar di dunia pada tahun 2011.
1. Amerika Serikat
Amerika adalah negara maju dengan menduduki posisi pertama sebagai negara pengguna facebook terbesar di dunia, sebanyak 157.418.920 pengguna dari 297.336.946 penduduk (rangking ke 3 penduduk terbanyak di dunia). Sebanyak 24% pengguna berusia 18-24 tahun, sebanyak 23% berusia 25-34 tahun, sebanyak 16% berusia 35-44 tahun. Sejarah internet dan facebook sendiri memang berasal dari AS yang disponsori oleh ARPANET (Departemen Pertahanan AS).
2. Indonesia
Di posisi adalah Indonesia sebagai negara dengan pengguna facebook terbesar di dunia yaitu sebanyak 41.777.240 pengguna dari 241.452.952 total penduduk Indonesia yang menempati urutan ke empat sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia. Sebanyak 41% berasal dari usia 18-24 tahun, sebanyak 21% berusia 25-34 tahun. Pengguna pria lebih banyak dari pada wanita, yaitu sebanyak 60%. Pengguna internet di Indonesia mencapai 45 juta jiwa, 48% mengakses internet dari ponsel. Internet di Indonesia masih menjadi hal yang banyak meninggalkan persoalan seperti akses lambat, biaya mahal, penipuan, monopoli ISP, konten-konten yang merugikan dan lain sebagainya.
3. India
India menempati urutan ke tujuh sebagai negara terluas di dunia dan menempati rangking  dua sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia. Sehingga tidaklah mengherankan apabila pengguna facebook di India juga termasuk yang terbesar di dunia, yaitu sebanyak 41.399.720 pengguna. Pengguna facebook di India didominasi oleh kalangan berusia 18-24 tahun yaitu sebesar 48% dan sebanyak 24% dari usia 25-34 tahun. India merupakan negara yang cukup ketat dan selektif dalam menerapkan sensor terhadap konten-konten yang dianggap merugikan bagi masyarakatnya. Beberapa website pernah dilarang atau disensor bahkan diblokir.
4. Brazil
Brazil adalah negara terluas ke 5 di dunia dan memiliki pengguna facebook terbesar keempat yaitu sebanyak 35.158.740 pengguna dari 184.101.109 populasi penduduk Brazil (nomor 5 penduduk terbanyak di dunia). Sebanyak 32% berasal dari kalangan usia 18-24 tahun, sebanyak 28% dari usia 25-34 tahun. pengguna internet di Brazil juga merupakan yang tertinggi yaitu sebanyak 67 juta pengguna atau kelima tertinggi di dunia.
5. Meksiko
Meksiko adalah negara terluas ke 13 di dunia dan memiliki pengguna facebook terbesar kelima yakni sebanyak 30.990.480 jiwa dari 104.959.594 jiwa populasi penduduk meksiko. Sebanyak 33% pengguna facebook berasal dari usia 18-24 tahun dan sebanyak 24% dari usia 25-34 tahun.
6. Turki
Penduduk Turki yang menggunakan facebook sebanyak 30.963.100 orang dari 68.893.918 populasi penduduk Turki. Pengguna facebook di Turki didominasi oleh penduduk berusia 18-24 tahun yaitu sebesar 33% dan sebanyak 28% berusia 25-34 tahun.
7. United Kingdom
Britania Raya atau Inggris memiliki pengguna facebook terbesar ke tujuh di dunia dengan jumlah 30.470.400 pengguna dari total penduduk 60.711.591 jiwa. Usia pengguna facebook di UK relatif sangat merata. Sebanyak 25% berasal dari usia 18-24 tahun, 24% berusia 25-34 tahun dan 17% berusia antara 35-44 tahun.
8. Filipina
Meskipun akses internet di Filipina terbilang tidak terlalu cepat, namun Filipina merupakan negara dengan pengguna facebook terbesar kedelapan di dunia dengan angka 27.033.680 pengguna dari 80.241.697 jumlah penduduknya. Sebanyak 39% adalah pengguna berusia 18-24 tahun, dan sebanyak 24% berusia 25-34 tahun, dan sisanya dari range umur yang beragam.
9. Prancis
Prancis adalah salah satu negara dengan pengguna facebook terbesar di dunia, yaitu sebanyak 23.545.120 pengguna dari 62.944.619 jiwa jumlah penduduk Prancis. Sebanyak 26% adalah pengguna facebook berusia 25-34 tahun dan sebanyak 25% berusia 18-24 tahun. Pengguna facebook di Prancis lebih didominasi oleh kaum Hawa yaitu sebesar 52% dari total pengguna facebook.

[dikutip dari berbagai sumber]
Read More...

Manfaat Susu Kedelai

Entah karena mengikuti trend atau memang para penjual sadar dengan kecenderungan kesadaran sebagian besar masyarakat yang saat ini mulai mengkonsumsi susu kedelai, sekarang ini sudah banyak para penjaja minuman ini. Keberadaan susu kedelai hampir sama dengan antusiasme sebagian orang untuk meminum sinom (minuman berbahan dasar buah dan daun asam jawa), es degan (kelapa muda) dan makanan serta minuman alamiah lainnya. Hali ini tentu saja cukup membanggakan.

Para peneliti dari Universitas Naples, Italia, melakukan perbandingan antara susu kedelai dengan susu sapi. Hasilnya, susu kedelai mengandung lebih sedikit lemak  dan mengandung asam lemak Omega-3 yang bisa membantu menurunkan kadar kolesterol. Dalam penelitian yang dilakukan pada hewan percobaan, diketahui bahwa hewan yang diberi susu kedelai memiliki kadar lemak darah trigliserida lebih rendah dan sistem metabolik mereka tidak stres.

Susu kedelai memiliki kadar protein dan komposisi asam amino yang hampir sama dengan susu sapi. Keunggulan lain dari susu kedelai dibandingkan dengan susu sapi adalah tidak mengandung kolesterol sama sekali. Susu kedelai mulai populer di kalangan masyarakat banyak sebagai pilihan baru selain susu sapi. Susu kedelai mudah didapat dengan harga relatif murah.

Karena kadar asam amino lisin yang tinggi, susu kedelai dapat digunakan untuk meningkatkan nilai gizi protein pada nasi dan makanan sereal lainnya, yang umumnya rendah kadar lisinnya. Mutu protein susu kedelai hampir sama dengan mutu protein susu sapi. Kandungan gizi kedelai merupakan sumber protein, lemak, vitamin, mineral dan serat. Susunan asam amino pada kedelai lebih lengkap dan seimbang. Kedelai sangat berkhasiat bagi pertumbuhan dan menjaga sel-sel tubuh. Protein kedelai juga dibuktikan paling baik dibandingkan dengan jenis kacang-kacangan lain. Kandunagn proteinnya setara denga protein hewani dari daging susu dan telur.

Asam lemak tak jenuh ini dapat mencegah timbulnya pengerasan pembuluh-pembuluh nadi. Tidak semata itu, kedelai juga dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dan dapat mengurangi resiko penyakit jantung, seperti yang telah dibuktikan melalui berbagai penelitian. Kadar trigliserida dan kolesterol yang tinggi merupakan pemicu penyempitan pembuluh arteri sehingga aliran darah akan tersumbat. Kondisi ini bisa memicu serangan jantung dan stroke.

Para peneliti juga menemukan susu kedelai mengandung kalsium tinggi, hampir sama dengan ASI serta bisa dipakai pada anak-anak yang alergi pada susu sapi. Dalam presentasi yang dilakukan pada European Congress on Obesity yang dilaksanakan di Turki, para peneliti juga menyatakan konsumsi susu kedelai bisa digiatkan. Meski susu kedelai ini sudah biasa dikonsumsi di Italia, namun susu ini relatif sulit ditemui di negara-negara eropa lainnya.


Resep Tradisional
Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan manfaat dari susu kedelai secara lebih optimal.
1. Diabetes Mellitus
    Bahan              : 1 (satu) genggam biji kedelai hitam.
    Cara membuat : Biji kedelai hitam direbus dengan 3 gelar air sampai mendidih hingga
                             tinggal menyisakan 1 gelas lalu saring untuk diambil airnya. Diminum
                             1 kali sehari 1 gelas dan dilakukan secara rutin setiap hari.


2. Sakit Ginjal
    Bahan              : 3 sendok makan biji kedelai.
    Cara membuat : Kedelai direbus dengan 2-3 gelar air sampai mendidih hingga tinggal
                            menyisakan 1 gelas lalu saring untuk diambil airnya. Diminum pada
                            pagi hari setelah bangun tidur dan dilakukan secara rutin setiap hari.


3. Reumatik
    Bahan             : 1 sendok makan biji kedelai hitam, 1 sendok makan kacang hijau,
                            dan 2 sendok makan kacang tanah.
    Cara membuat : Semua bahan tersebut digoreng tanpa minyak (sangrai), kemudian
                            ditumbuk atau digiling sampai halus. Cara menggunakannya hasil
                            gilingan tersebut dimakan 2 kali sehari 1 sendok teh, pagi dan sore.


Diharapkan dengan beberapa cara tersebut akan membuat kita mampu merengkuh manfaat dan kegunaan susu kedelai. Atau bila memang tidak memungkinkan, di beberapa tempat mulai banyak dijual varian dari susu kedelai yang siap untuk dikonsumsi. Kata orang, negeri ini sarat dengan flora dan fauna yang tak terhingga. Bila dimanfaatkan dengan baik, maka sudah pasti manfaatnya akan dapat dirasakan. Untuk bisa ke arah sana, jalan yang ditempuh adalah dengan menyadari manfaat dari semua anugerah tersebut. []


Dikutip dari berbagai sumber
Read More...

Hukum Mempelajari Fiqih

Sesungguhnya ilmu yang paling utama setelah ilmu pengetahuan tentang sifat-sifat Allah adalah ilmu fiqih, yaitu salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya. Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa ilmu fiqih sebagai ilmu tentang halal dan haram. Oleh karena itu, sebagai umat muslim kita diharuskan untuk mempelajari ilmu fiqih agar dapat menjalankan syariat Islam secara baik dan benar.

Melalui catatan sederhana ini, penulis mencoba untuk menguraikan hukum tentang mempelajari ilmu fiqih bagi setiap muslim. Setidaknya ada tiga derajat/tingkatan hukum bagi orang untuk mempelajari ilmu fiqih ini. Pertama adalah hukumnya Fardhu Ain (wajib bagi setiap individu muslim). Hal ini adalah bagi orang yang mukallaf (sudah baligh dan berakal sehat), berupa bekal untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya dalam kehidupan beragama atau ibadah sehari-hari. Sebagai contoh adalah tata cara berwudhu, shalat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah sehari-hari lainnya. Inilah makna dari hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abi Ya’la ra bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Mencari ilmu wajib (hukumnya) atas tiap-tiap orang muslim laki-laki dan perempuan”.

Kedua adalah Fardhu Kifayah, ialah mempelajari ilmu-ilmu yang mendukung tegaknya perjalanan syariat Islam. Seperti menghafal Al-Qur’an, mempelajari ilmu-ilmu ushul, hadits-hadits, nahwu dan shorof (ilmu ketatabahasaan) dan lain sebagainya. Ilmu-ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan keduniaan dan tidak terkait sama sekali dengan syariat Islam seperti ilmu kedokteran, tehnik dan lain-lain hukumnya adalah fardhu kifayah juga, sebagaimana yang disampaikan Imam Ghazali.
Orang yang melaksanakan fardhu kifayah mempunyai kelebihan dibandingkan dengan orang yang hanya melakukan fardhu ain saja, karena orang yang melaksanakan fardhu kifayah berarti telah menggugurkan kewajiban sesamanya. Yang memprihatinkan sekarang ini adalah justru banyak masyarakat kita yang terjebak pada pemikiran bahwa mempelajari ilmu-ilmu yang mendukung untuk kehidupan keduniaan lebih diutamakan dengan dalih agar mudah untuk mendapatkan pekerjaan guna mencari ma’isyah (penghidupan).

Ketiga, hukumnya adalah Sunnah. Pada porsi mendalami ilmu sampai kepada dasar-dasar dalilnya secara detail dan terperinci atau segala hal yang berada di atas kadar kewajiban secara kifayah, semua ini hukumnya adalah sunnah. Orang awam yang mempelajari cara-cara ibadah sunnah tidak dalam rangka tujuan mampu membedakan antara yang sunnah dan yang wajib (karena ini adalah syarat suatu ibadah), inipun hukumnya bagi mereka adalah derajat kesunnatan.
Setelah kita melihat tentang dasar-dasar mempelajari suatu ilmu dan bagaimana hukumnya, kita menjadi tahu dan mampu untuk menyimpulkan mana bahagian dari pada ilmu syariat dan mana yang bukan. Dengan ini pula kita dapat memahami bahwa mengkaji ilmu mempunyai kelebihan jauh dibandingkan ibadah-ibadah yang manfaatnya khusus untuk pribadi.
Wallahu a’lam.
Read More...

Serial Buku SBY Bentuk Kampanye Terselubung




Temuan 10 buku bertema SBY di sekolah-sekolah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah dinilai sebagai titik mula glorifikasi Presiden RI ke empat tersebut.  Glorifikasi selalu akan berujung pada empati dan perluasan dukungan politik bagi sang tokoh. Demikian dikatakan Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi menanggapi beredarnya buku buku SBY yang menjadi polemik.

"Meski penyebaran gagasan dan pikiran tentang SBY merupakan hak berekspresi, tetapi penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pencetakan buku itu patut diduga sebagai bentuk kampanye terselubung dengan biaya negara,” kata Hendardi, Jumat (28/1). Sebab itu, ia mengingatkan pentingnya untuk menelusuri jangan sampai alokasi dana pendidikan 20% dari APBN, justru digunakan bukan untuk tujuan mencerdaskan bangsa.

Menanggapi Wamendiknas Fasli Jalal yang akan menyerahkan evaluasi buku SBY pada tim penilai, Koordinator Monitoring Kebijakan Publik ICW, Ade Irawan menyatakan tim penilai harus menjelaskan pada publik mengapa buku itu bisa lolos. Tim penilai harus mempertanggungjawabkan serial buku SBY bisa lolos ke sekolah-sekolah. “Apakah ada muatan politik atau tidak. Walau saya kira muatan politiknya tinggi. Harus ada pertanggungjawaban secara akademis,” tegasnya.

Pengamat pendidikan Romo Baskoro menyatakan boleh saja tim penilai mengevaluasi buku SBY. Namun,  ia meminta jajaran Kemendiknas harus mempunyai kordinasi yang baik dan bertanggung  jawab.  "Jangan saling melempar tanggung jawab, mesti ada pihak di Kemendiknas yang paling berwenang membuat keputusan ini," kata Pembina Kolese Kanisius ini. Romo Baskoro berharap pihak Kemendiknas mesti mempertimbangkan secara masak dalam penggunaan DAK, dalam mekanisme penggunaan dan kontrolnya.

Read More...

Seekor Sapi Untuk Delapan Orang

Selamat Idul Adha
More Graphics

Meski sama-sama pemegang fiqih yang ketat, Kiai Wahid dan Kiai Rais berbeda dalam strategi penerapannya. Kiai Wahid cenderung bergaris lunak, sementara Kiai Rais bergaris keras. Suatu hari menjelang Idul Adha seseorang datang menghadap Kiai Rais. Dia bermaksud melaksanakan kurban dengan menyembelih seekor sapi. Namun sebelumnya dia berkonsultasi terlebih dulu dengan Kiai Rais. Apakah boleh berkurban seekor sapi untuk delapan orang? Dalam ketentuan fiqih, satu ekor sapi untuk tujuh orang. Padahal jumlah anggota keluarganya ada delapan. Dia ingin di akhirat nanti satu keluarga itu bisa satu kendaraan agar tidak berpencar.

Mendengar pertanyaan tersebut Kiai Rais menjawab, “Tidak bisa”. Kurban sapi, kerbau atau unta hanya berlaku untuk tujuh orang. Kemudian orang itu menawar kepada Kiai Rais, “Pak Kiai, apakah tidak ada keringanan? Anak saya yang bungsu baru berumur tiga bulan”. Dengan menjelaskan dasar hukumnya, Kiai Rais tetap menjawab tidak bisa.

Merasa tidak puas, orang itu mengadukan persoalannya kepada Kiai Wahid. Mendengar persoalan yang diadukan oleh orang itu Kiai Wahid dengan enteng menjawab, “Bisa... Sapi itu bisa digunakan untuk delapan orang. Cuma karena anakmu yang terakhir itu masih kecil, maka perlu ada tambahan.”

Mendapat jawaban dari Kiai Wahid orang itu tampak gembira, lalu bertanya, “Tambahannya apa, Pak Kiai?”
“Agar anakmu yang masih kecil itu bisa naik ke punggung sapi, maka harus pakai tangga. Sampeyan sediakan saja seekor kambing supaya anak sampeyan bisa naik ke punggung sapi”, jawab Kiai Wahid.
“Ah,,, kalau Cuma seekor kambing sih  saya sanggup menambah. Dua ekor pun sanggup asalkan kami bisa bersama-sama di surga nanti, Pak Kiai”. Akhirnya pada hari pelaksanaan kurban, orang tersebut menyerahkan seekor sapi dan seekor kambing kepada Kiai Wahid sebagai kurban untuk keluarganya yang berjumlah delapan orang.[]
 
Read More...

Tips Mengatasi Anak Bicara Jorok dan Kasar

Pernah dikagetkan dengan kata-kata kasar dan jorok yang meluncur begitu saja dari mulut si kecil? Padahal kita merasa di rumah tidak pernah mencontohkannya. Apa yang mesti dilakukan oleh kita selaku orang tua untuk menghadapi hal semacam ini? Ada banyak alasan mengapa anak kita berkata kasar. Faktor yang mempengaruhi anak berbicara kasar, yang paling umum adalah untuk menarik perhatian orang lain. Selain itu ada juga faktor lainnya, yaitu adanya perasaan anak yang ingin menjadi superior. Pendapat lain menyatakan bahwa beberapa anak berkata kasar ternyata untuk meredakan ketegangannya sendiri serta dilandasi rasa ingin tahu dari lingkungannya.
Anak kita merupakan peniru ulung. Oleh karenanya hindari penggunaan kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak kita menirunya. Bisa jadi anak-anak kita berkata kasar karena meniru temannya di sekolah atau teman main di sekitar lingkungan rumah. Mereka dapat juga melakukan itu karena hanya sekedar iseng atau sedang mempelajari kata-kata yang baru dan senang dengan bunyi kata itu tanpa mengetahui artinya sama sekali.
Orang tua yang mendapati anaknya berbicara kasar dan kotor harus segera bertindak. Perilaku negatif ini jangan sampai dibiarkan berlarut-larut karena lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Langkah pertama yang orang tua harus lakukan dalam mengatasi masalah ini adalah mencari tahu penyebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi  si anak bicara kasar. Penanganannya nanti akan didasarkan pada faktor-faktor penyebab yang ada pada anak. Apakah untuk menarik perhatian, sekedar meniru atau untuk melampiaskan kemarahan dan lain-lain.
Berikut ini adalah tips mengatasi anak berkata jorok dan kasar:

  1. Berikan contoh kata-kata yang baik, karena anak-anak itu gampang meniru apa yang diucapkan oleh orang terdekatnya. Anak usia balita umumnya senang mempelajari kata-kata yang baru. Apalagi  pada usia ini kemampuan bahasa dan menyerap informasinya sedang berkembang pesat. Mencegah si kecil agar tak bertutur kata kasar/kotor adalah dengan memberikan contoh yang baik, entah itu dari lingkungannya, orang tuanya, kerabatnya agar tidak sampai keceplosan dalam berbicara.
  2. Berikan penjelasan atau pengertian akan arti dan maksud dari kata-kata yang diucapkannya berikut dampaknya. Kebanyakan anak mengucapkan kata-kata kasar/jorok tanpa mengetahui artinya. Dengan demikian kita sebaiknya memberitahu artinya secara singkat dan jelas serta mengenalkan akibatnya jika kita mengucapkan kata-kata itu kepada orang lain.
  3. Berikan hukuman sewajarnya bila ia mengulangi kebiasaan buruk tersebut.
Read More...

Miskin Dilarang Sakit

Orang miskin dilarang sakit. Itu adalah tema Kick Andy minggu lalu, meski kasus yang diajukan tak sepenuhnya menggambarkan bahwa kematian atau kegagalan pengobatan yang dialami akibat ketidakadaan biaya. Sebagian besar lebih karena ketidaktahuan (ignorance) dari orang tua pasien mengenai keadaan yang dialami anak mereka. Contoh kasus yang diangkat sekaligus menggambarkan rendahnya mutu layanan kesehatan di negeri ini.
Tapi tema yang dipilih Kick Andy tidak salah. Sudah menjadi rahasia umum: saat ini biaya pelayanan kesehatan di Indonesia memang sangat mahal. Bukan cuma si miskin, mereka yang setengah miskin pun amat merasakannya.
Sekarang ini pemerintah menyatakan telah menyediakan dana jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) untuk yang miskin dan beberapa pemerintah daerah menyediakan jamkesda. Tetapi peristiwa seperti yang ditemukan Andy F. Noya masih banyak terjadi. Bukan satu dua orang dari kelompok miskin tak tahu bahwa ada dana itu. Kepala desa tak memberi tahu warganya mengenai hal itu. Rumah sakit setali tiga uang. Rumah sakit, mungkin, takut kesulitan ketika menagih dana itu ke pemerintah.
Kini pemerintah menjanjikan pada 2011, semua persalinan akan digratiskan. Maksudnya, tentu, supaya semua ibu hamil mau datang ke puskesmas kalau melahirkan. Tidak pergi ke dukun bayi. Tapi ada pertanyaan besar, apakah rakyat di desa-desa yang tinggal jauh dari puskesmas mengetahui hal itu? Seandainya tahu apakah biaya perjalanan menuju ke puskesmas juga ditanggung?
Tidak semua puskesmas mudah terjangkau oleh penduduk dan tidak semua desa tersedia bidan. Kalaupun ada bidan, mereka juga akan menarik bayaran kalau menolong persalinan di luar puskesmas. Apalagi kalau bidan itu adalah bidan swasta yang tidak digaji negara. Jangankan di desa, di banyak kota pun lebih banyak bidan swasta dibanding bidan pemerintah.
Di kabupaten Pontianak, misalnya, dari sekitar 400 bidan, hanya sekitar 100 yang berstatus pegawai negeri. Kalau janji pemerintah itu hanya berlaku untuk mereka yang melahirkan pada bidan pemerintah atau melahirkan di sarana pelayanan kesehatan pemerintah, maka kembali lagi yang miskin dan tinggal jauh dari tempat layanan akan tidak dapat menikmatinya.
Kalau niat pemerintah itu ditujukan agar angka kematian ibu melahirkan dapat diturunkan, yang seharusnya dilakukan adalah peningkatan akses terhadap pemeriksaan kehamilan, deteksi dan penanganan dini pada kehamilan yang berisiko, dan penggiatan layanan keluarga berencana sampai ke desa-desa. Termasuk, misalnya, untuk kehamilan yang berisiko, maka biaya transportasi dari desa ke Puskesmas akan ditanggung negara, dan semua puskesmas sudah dilatih dan dielngkapi sarana untuk memberikan pertolongan persalinan yang berisiko.
Sekarang ini dengan adanya batasan kewenangan kepada bidan sebagai konsekwensi UU Praktik Kedokteran, maka sering dana pelatihan lebih banyak digunakan untuik melatih dokter puskesmas. Padahal penempatan dokter puskesmas itu sendiri tidak bersifat tetap, sehingga kalau dokter yang sudah dilatih itu pindah, yang menggantikan memerlukan pelatihan lagi. Sementara bidan yang lebih menetap dan lebih banyak berhubungan langsung dengan perawatan kehamilan di desa-desa, kurang mendapat pembekalan agar siap menangani kehamilan yang berisiko.
Jadi kembali lagi, niat yang baik dari pemerintah tadi akhirnya hanya leboih bernuansa untuk popularitas karena tidak disertai pemikiran tentang bagaimana mendaratkan niat tersebut sampai ke desa-desa yang jauh dari jangkauan puskesmas.

Kartono Mohamad
Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Read More...

Mari Belajar Kepada Rayap

Pasti kita semua kenal dengan binatang yang bernama rayap. Rayap adalah binatang kecil yang biasa memakan kayu dan dikenal sebagai hama yang bisa merusak rumah kita. Ia menjadi musuh nomor wahid bagi bahan rumah atau perabot yang terbuat dari kayu. Kekuatan rayap sungguh luar biasa, sebuah bangunan besar saja bisa hancur oleh binatang kecil ini. Namun bukan hanya itu saja kekuatannya. Rayap ternyata juga memiliki kekuatan untuk membangun. Rayap sanggup membangun sarangnya lengkap dengan sistem Air Conditioning (pendingin ruangan) plus tata ruang yang apik dengan ketinggian bisa mencapai 9 meter. Ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa, sebab tubuh rayap sendiri hanya memiliki tinggi sekitar 3 mm saja. Kalau rayap sanggup membangun sarang dengan ketinggian 9 meter itu artinya rayap mampu membuat sesuatu yang besar sampai 3.000 kali lipat tinggi badannya.

Sementara manusia, dengan berbagai bahan-bahan dan peralatan yang canggih sekalipun, sampai sekarang belum mampu membangun bangunan dengan ketinggian sampai 1.000 kali tinggi badannya. Sampai saat ini bangunan tertinggi yang sudah dibuat manusia baru mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter saja.

Bagaimana rayap bisa membangun tempat tinggalnya begitu tinggi? Setidaknya ada dua hikmah yang bisa kita dapatkan dari kehidupan rayap. Mereka bekerja sama dalam membangun sarangnya. Tubuh kecil dan lemah bisa diatasi dengan cara bekerja sama. Bekerja sama membuat mereka memilki kekuatan yang dahsyat baik dalam menghancurkan maupun dalam membangun.
Mereka bekerja dengan mengikuti insting, yang merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada makhluk ini. Mereka tidak punya ilmu arsitektur,  mereka tidak memiliki ilmu dengan pengkondisian udara dan tata ruang, bahkan mereka tidak pernah kuliah tentang cara mengawetkan makanan. Mereka mampu karena mereka hidup dalam fitrahnya.

Manusia yang seharusnya memiliki kemampuan yang jauh lebih dahsyat bisa kehilangan kemampuan itu karena disebabkan oleh dua hal, yaitu: yang pertama, jika seseorang sudah tidak mau lagi bekerja sama dengan saudaranya. Kesombongan dan keangkuhan mereka menghalangi untuk bekerja sama sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal. "Saya bisa, saya hebat, saya mampu. Buat apa bekerja sama?". Orang-orang yang berkata seperti ini adalah mereka yang kehilangan banyak potensi keberhasilan dalam hidupnya.
Hikmah kedua, banyak manusia yang sudah melenceng jauh dari fitrahnya. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Cara yang diproduksi oleh akalnya sendiri yang sungguh lemah dan banyak kekurangan. Padahal kita sudah punya cara hidup yang sangat sesuai dengan fitrah manusia, karena cara hidup ini dibuat oleh Pencipta kita. Cara hidup itu adalah Al Quran dan Hadits Nabi Saw.

Mudah-mudahan melalui gemblengan selama bulan ramadhan ini, kita semua kembali kepada fitrah kita. Menjadi manusia yang selalu butuh akan sesamanya serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Maka dengan demikian kita bisa mengembalikan potensi kita yang sebenarnya. Potensi untuk meraih sukses dunia maupun akhirat. Amin.

 [Dikutip dari berbagai sumber]
Read More...
 
Copyright (c) 2010 Blogger templates by VLC Player